Bersama Sebastian

1195 Kata
Di tengah percakapan lembut Vivian dan Sebastian, ponsel Vivian kembali bergetar. Kali ini panggilan dari Rachel. Vivian buru-buru mengangkat. “Rachel? Kenapa telpon? Kita kan, nggak jauh-jauhan.” Suara Rachel terdengar terburu-buru dan penuh euforia. “Vivian, aku nggak bisa pulang bareng kamu malam ini. Kamu bisa pulang sendiri, kan?” Vivian langsung tegak dari duduknya. “Apa? Kok, tiba-tiba? Kenapa?” “Aku … lagi di mobil.” Suara Rachel mendadak mengecil, tapi jelas terdengar geli. “Gebetan aku ngajak pergi barusan. Kamu tahu kan, siapa? Si atlet panjat tebing itu, Mark yang aku ceritain!” Vivian terbelalak. “Rachel! Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?” “Karena ….” Rachel terbahak pelan, “… aku nggak mau ganggu waktu berharga kamu dengan pria tampan itu.” Vivian spontan menoleh ke arah Sebastian yang sedang menatapnya bingung, lalu pipinya terbakar merah. Ia memunggungi Sebastian, berbisik geram ke telepon. “Rachel! Ngomong apa sih, kamu!” Rachel terkekeh tanpa rasa bersalah. “Ya ampun, Vivian, wajah kamu pasti merah kayak cabe. Udah, aku harus pergi. Kamu pulang sendiri ya—” “Rachel! Aku mau pulang ke mana malam ini?” Vivian hampir setengah memohon. “Aku nggak mau pulang ke rumah.” Suara Rachel langsung berubah sedikit menyesal. “Maaf, Vivian … beneran. Tapi aku juga nggak bisa nolak kesempatan begini, kamu tahu sendiri sudah hampir setahun aku suka sama Mark.” Vivian memijit pelipis. “Terus aku gimana? Pulang naik apa? Ke mana?” Rachel diam sejenak, lalu dengan santai berkata, “Ya … kamu bisa numpang sama pria tampan itu.” Vivian hampir tersedak napasnya. “Rachel! Kamu gila!” “Lho, kenapa? Dia baik, kok. Kamu kan, kenal trik membaca karakter orang ….” Rachel tertawa lagi, jelas makin menikmati kepanikannya. “Lagipula dia kayaknya tertarik sama kamu. Jelas banget, Vivian.” Vivian menengok ke Sebastian lagi, pria itu memberi isyarat jempol sambil tersenyum kecil. Vivian makin terbata-bata. “Aku nggak mungkin numpang sama orang yang baru kenal!” “Tapi dia ganteng,” jawab Rachel datar. “Rachel ….” “Dan kelihatannya dia gentle.” “Rach—” “Dan jujur aja, lebih aman numpang sama dia daripada kamu muter-muter tengah malam sendirian nyari tempat,” potongnya cepat. “Kamu bisa juga cari hotel. Atau ke rumahku … tapi aku nggak pulang malam ini.” Vivian ingin marah, tapi akhirnya hanya terduduk lemas. “Rachel, serius … jangan tinggalin aku gini.” “Aku tahu, makanya aku bilang maaf.” Lalu terdengar suara pria memanggil nama Rachel di latar belakang. “Aku harus pergi. Kamu pasti bisa cari solusi. Kamu pintar. Kamu kuat. Dan … kamu nggak sendirian di pesta itu.” “Rachel!” “Tutup telepon ya? Bye, Vivian! Love you!” Vivian menatap layar ponselnya yang gelap. Ia ingin menjerit. Di depannya, Sebastian berdiri dengan tangan masuk ke saku, menatap Vivian dengan senyum kecil yang membuat jantungnya makin kacau. “Jadi …,” katanya perlahan, “kamu … butuh tumpangan pulang?” Vivian menatap Sebastian dengan pasrah dan wajah yang masih memerah. “A-apa kamu … mendengarnya?” tanyanya pelan, hampir malu untuk memastikan. Sebastian mengangguk ringan, tidak terlihat menahan tawa atau mengejek. Justru tatapannya lembut, seperti seseorang yang benar-benar tidak keberatan mendengar semua kekacauan hidup Vivian barusan. “Dengar,” jawabnya jujur. “Tapi bukan hal memalukan, kok. Lagipula ….” Ia sedikit menoleh ke arah pesta di belakang mereka. “…aku juga mulai bosan di sini.” Vivian mengerjap. “Bosan?” “Ya.” Sebastian menyeringai kecil, ramah, tapi tidak berlebihan. “Pestanya makin ramai, musiknya makin keras, dan semua orang mulai mabuk. Tempat kayak gini cuma seru lima belas menit pertama.” Vivian tersenyum tipis, hatinya terasa sedikit lebih ringan. “Kamu benar.” “Kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu pulang. Atau ... kalau kamu belum mau pulang, aku bisa membawamu ke tempat yang lebih baik dari sini.” “Ke mana?” Sebastian mengangkat bahu santai. “Bukan tempat aneh, tenang saja.” Ia menatapnya dengan mata jujur. “Hanya … tempat yang lebih tenang. Kamu kelihatan butuh udara segar, bukan keramaian.” Vivian menelan ludah. Hatinya masih kacau, kepalanya penuh masalah. Namun … tatapan Sebastian terasa berbeda. Tidak menuntut, tidak menekan. Hanya menawarkan. “Kalau kamu belum mau pulang,” lanjut Sebastian, “aku bisa ajak kamu ke tempat yang lebih nyaman. Kita nggak harus ngobrol kalau kamu nggak mau. Yang penting kamu nggak sendirian.” Vivian mengangguk pelan tanpa sadar. “Baik … kalau begitu. Aku ikut.” Senyum Sebastian melebar. “Oke. Ayo.” Ia mengulurkan tangan kecil untuk menuntun Vivian berdiri dari duduknya. Vivian menyambutnya, dan genggaman itu terasa hangat. Mereka pun berjalan melewati kerumunan pesta, melewati lampu-lampu berwarna, naik ke parkiran. Sebastian membuka pintu mobil hitamnya dan menunggu Vivian masuk sebelum mengitari kap mobil dan duduk di bangku pengemudi. Begitu pintu tertutup, dunia bising itu langsung lenyap, digantikan keheningan nyaman. Vivian menatap ke luar jendela, jantungnya berdetak pelan, tapi stabil. Mobil itu pun melaju pergi, menjauh dari pesta, menjauh dari sakit hati … membawa Vivian ke tempat baru yang belum ia bayangkan. *** Mobil Sebastian melaju tenang membelah jalanan malam, hingga akhirnya lampu-lampu kuning khas kota tua mulai terlihat. Suasananya berbeda jauh dari pesta sebelumnya lebih hangat, sederhana, dan hidup dengan caranya sendiri. Banyak orang duduk berkelompok, beberapa tertawa kecil sambil menikmati makanan kaki lima, anak-anak muda bermain skateboard, sementara pasangan berjalan pelan di antara bangunan bersejarah. Vivian menatap ke luar jendela, terpukau. “Wow … masih seramai ini jam segini?” Sebastian memarkir mobil dan tersenyum. “Tentu. Kota Tua nggak pernah tidur kalau akhir minggu. Ayo.” Mereka berjalan berdampingan, menyusuri batu-batu besar yang menjadi ciri khas kawasan itu. Udara malam terasa lembut, tidak menusuk hanya cukup untuk membuat hati yang panas menjadi dingin. Sebastian melirik Vivian. “Kamu sudah pernah ke sini?” “Sesekali,” jawab Vivian jujur. “Tapi nggak pernah jam segini. Rasanya … beda.” “Dingin, tapi nyaman?” tebak Sebastian. Vivian tersenyum. “Iya. Nyaman.” Di sela kerumunan, ada layar besar yang menampilkan film dokumenter sejarah Batavia. Banyak orang duduk bersila di lantai atau berdiri santai menontonnya. Vivian terpaku sejenak melihat bagaimana semua orang tenang, seolah dunia sedang berhenti sebentar. “Ayo duduk,” ucap Sebastian sambil menepuk bangku batu kosong di sebelahnya. Vivian duduk, menarik napas panjang. Rasanya seperti semua beban di dadanya perlahan turun. Mata mereka tertuju pada film hitam putih yang diputar, suara naratornya lembut. Tak lama, Sebastian bangkit tanpa berkata apa-apa. Vivian mengira ia pergi telepon atau semacamnya, tapi beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa dua es teh manis dan dua piring kecil. Vivian menatap bingung. “Kerak telor?” Sebastian duduk dan menyodorkan salah satunya. “Kamu harus makan sesuatu. Kamu sudah bilang hati kamu kacau, kan? Biasanya orang sedih makannya pedes, tapi malam ini kamu ganti menu.” Vivian tertawa kecil, menerima piring itu. “Kamu selalu pasti banget ya, jawabnya.” “Karena aku bener,” jawab Sebastian santai. Mereka makan pelan sambil menonton dokumenter, sesekali berkomentar kecil, sesekali diam menikmati suasana. Vivian tak menyangka malam yang berakhir kacau bisa berubah menjadi tenang seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN