Waktu berlalu tanpa terasa. Vivian tidak pernah menyangka bahwa menonton dokumenter sejarah di Kota Tua bisa membuatnya begitu tenang bahkan bahagia. Saat film selesai, sebuah pertunjukan musik akustik dimulai di sudut lain alun-alun. Penyanyinya membawakan lagu-lagu lawas yang lembut, tapi ceria, dan suasananya berubah menjadi hangat dan menyenangkan. “Eh, lagu ini aku tahu,” bisik Vivian sambil tersenyum. Sebastian menoleh. “Kalau tahu, nyanyi dong.” Vivian menggeleng cepat, malu. “Aku nggak bisa nyanyi.” “Bisa. Kamu cuma malu,” balas Sebastian, wajahnya jenaka. Ketika reff lagu itu dimainkan, Vivian tanpa sadar ikut bersenandung pelan. Lalu semakin lama, suaranya makin terdengar. Ia ikut menggoyangkan tubuhnya pelan mengikuti irama. Sebastian tertawa kecil melihat tingkahnya.

