Esok paginya, suasana meja makan terasa sedikit berbeda. Hans dan Deliana duduk berseberangan, menikmati sarapan roti panggang dan kopi. Tidak ada percakapan berarti, hanya denting sendok dan garpu yang sesekali terdengar. Lalu langkah ringan terdengar dari arah tangga. Vivian muncul dengan wajah yang datar, rambut dikuncir seadanya, dan tas tersampir di bahunya. Ia bahkan tidak menoleh ke arah meja makan, hanya mengambil roti dari piring saji lalu berkata singkat, “Aku berangkat duluan.” Deliana mengerutkan dahi. “Nggak bareng Hans?” Vivian menggeleng cepat, suaranya datar. “Nggak perlu.” Tanpa menunggu balasan, ia langsung berjalan menuju pintu dan pergi. Hanya suara pintu tertutup yang tersisa. Keheningan kembali turun di meja makan. Deliana menatap Hans tajam, penuh rasa ingin t

