Saat jam istirahat tiba, Vivian baru saja hendak berjalan keluar bersama beberapa pegawai lain untuk mencari restoran terdekat. Ia baru berjalan dua langkah ketika suara Hans memanggilnya dari arah lobby. “Vivian.” Langkah Vivian terhenti. Pegawai lain otomatis melirik, sebagian saling berbisik. Vivian menelan kesal, lalu berbalik. Hans berdiri di sana, wajahnya datar, tapi sorot matanya jelas memanggil tanpa memberi ruang untuk menolak. “Ayo, ikut,” katanya singkat. Vivian ingin berkata tidak, tapi tidak ada gunanya berdebat di depan semua orang. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan menghampiri Hans dan masuk ke mobil hitamnya. Begitu mobil melaju, Vivian bersandar sambil memeluk tasnya. “Kita mau ke mana sekarang?” tanyanya, berusaha terdengar netral. Hans meliriknya sekilas.

