“Lo dari mana?” tanya Niko to the point, tapi tidak nge-gas sama sekali. Nada bicaranya masih santai dan tenang. “Kamu siapa?” Elan sengaja berpura-pura tidak langsung mengenali Niko. “Tunggu, sepertinya saya pernah melihat kamu. Tapi di mana?” lanjutnya, dengan wajah yang begitu meyakinkan kalau sedang berpikir. “Jangan pura-pura nggak tahu. Gue yakin lo tahu siapa gue. Pas malam Minggu, lo bahkan ikut menangkap basah gue sama Bina.” “Ya ampun, saya ingat sekarang. Kamu itu sering antar-jemput Bina semenjak Tiwi kecelakaan, kan? Baiklah, kamu sepupu Bina. Tapi kenapa datang ke sini?” Elan sengaja tidak menyinggung tentang malam ulang tahun Bina. “Di mana Bina sekarang? Cepetan kasih tahu gue,” tekan Niko. “Bina? Kenapa kamu bertanya? Dia seharusnya di rumahnya.” “Ya, seharusnya Bina

