Selesai makan malam bersama sang teman, Hanna pulang sendiri dengan berjalan kaki. Sebenarnya sang teman menawarkan untuk mengantar sampai kosan, tapi Hanna menolak karena ia ingin sekalian berjalan kaki agar bisa sekalian membakar kalori. Ah, sebenarnya itu hanya alasan karena ada alasan yang lebih utama—Hanna tak bisa memungkiri kalau dirinya malah terus memikirkan Satya. Ia juga tak henti-hentinya memikirkan apa yang temannya katakan tadi. Benarkah Satya menyukai salah satu teller Forena? Dengan berjalan kaki, Hanna berharap bisa mengenyahkan segala tentang Satya di kepalanya, tapi apakah berhasil? Entahlah. Hanna sudah hampir tiba di kosan, tapi yang terbayang justru ciumannya dengan Satya. “Apa aku gila sampai berpikir dia pakai guna-guna?” batin Hanna. “Se-konyol itulah aku yang p

