Aya masih berpikir. "Aya! Jangan bohong, katakan apa yang sudah terjadi!" Rara mulai gusar, tak sabar menunggu jawaban Aya. "Itu ... itu tidak sengaja, Amma. Aya baru sadar, setelah bibir Om Arogan itu mengisap bibir Aya," jawab Aya jujur dengan suara sangat lirih. Ia takut Ammanya murka. Dalam keluarga mereka, tidak ada istilah pacaran, tidak ada ciuman sebelum akad nikah. Benar saja, Rara nyaris berteriak saking kaget atas pengakuan putrinya. "Apa!?" Sesaat kemudian, Aya tersadar. "Astaghfirullah al adzim ... bagaimana itu bisa terjadi, Aya?" "Itu terjadi begitu saja, Amma. Om Arogan itu yang salah! Dasar pria kurang ajar, pasti otaknya m***m, main cium sembarangan," gerutu Aya. Rara ingin tertawa mendengar gerutuan putrinya, tapi ada rasa marah juga. Akhirnya, Rara hanya menarik

