“Ini apa?” Jason menatap asistennya yang tengah berdiri di depannya dengan sorot mata tajam, dalam, dan mengintimidasi. Hanya dua kata, tapi mampu membuat bulu kuduk Lina meremang dengan dahsyat dan jantungnya berdetak heboh. Tubuhnya melemas. Sangat lemas hingga kakinya tidak bisa menopangnya. Terima kasih kepada tangannya yang menggenggam punggung kursi hingga tidak terjadi adegan dirinya ambruk. “Anu, Pak. Itu,,, saya ada kepentingan keluarga. Jadi…” “Kalau begitu, ambil cuti!” Jason melempar surat di tangannya ke arah Lina, lalu kembali menekuni pekerjaannya, tampak tidak tertarik dengan penjelasan Lina sama sekali. Lina meraih surat pengunduran diri yang sudah dia siapkan. Wajahnya pucat pasi. “Tapi, Pak…” “Saya tidak suka mengulang perkataan. Ubah suratmu dan aku akan menyetuju