Mandul - 4

1356 Kata

Zahra berjalan pulang dari kantor, hatinya terasa lebih berat dari biasanya. Pertanyaan-pertanyaan soal kehamilan yang terus ia terima makin menusuk, sementara sikap Fadlan akhir-akhir ini terasa makin acuh. Ketika rumah sudah tinggal beberapa langkah lagi, suara yang ia kenal baik memanggil. “Eh, Mbak Zahra! Sini dulu, sayang!” Bi Unah, wanita setengah baya, ratu gosip kompleks, melambai genit. Zahra menahan napas, tapi tetap menghampiri dengan senyum dipaksakan. “Mbak Zahra, sayang… Bibi tadi denger dari emak-emak di warung, kamu belum punya anak ya? Kasihan banget. Tapi tenang, bibi punya solusi!” katanya semangat, seolah menemukan rahasia besar. Zahra sudah bisa menebak arahnya. “Iya, Bi, saya dan suami masih berusaha. Doakan saja ya.” Bi Unah geleng-geleng dramatis. “Doa penting,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN