Mandul - 5

1347 Kata

Sabtu pagi udara terasa lebih dingin dari biasanya. Zahra libur kerja, matahari belum sepenuhnya naik saat ia berdiri di dapur, masih dengan celemek melekat di tubuhnya. Wajahnya sembab, semalam ia nyaris tak tidur. Tapi tetap saja, tangannya bekerja. Telur rebus, roti gandum, segelas s**u kedelai, semua sesuai anjuran dari dokter. Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima. Suara pintu kamar terdengar. Fadlan keluar tergesa-gesa, merapikan tas kerja sambil memencet-mencet layar ponsel. “Mas, sarapannya udah siap,” suara Zahra lirih, seperti embun yang menetes. “Nggak sempet, Ra. Ini Sabtu, aku harus berangkat sekarang, macet banget takut telat,” jawab Fadlan cepat, tanpa menoleh. Tangannya sudah di gagang pintu. Zahra menatap piring yang ia tata rapi di meja makan. Makanan yang ia siapka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN