Mandul - 8

1320 Kata

Hari itu terasa berjalan terlalu lambat untuk Zahra. Setiap detik seperti menetes berat. Siska, satu-satunya tempat curhatnya di kantor, absen karena dysmenorrhea yang parah. Tanpa tawa dan celoteh khas Siska, ruangan keuangan seperti kehilangan warna, jadi lebih sunyi, lebih berat, lebih membuat pikiran Zahra terkurung. Dan justru hari ini, setelah terpaksa ikut arisan yang menyakitkan di rumah mertuanya, ia butuh seseorang yang bisa mendengarkan. Butuh tawa, butuh pelukan, butuh tempat aman dan butuh seseorang yang menyemangatinya. Begitu pekerjaan selesai, Zahra langsung memutuskan: ia harus menemui Siska. Atau lebih tepatnya… ia butuh bicara sebelum pikirannya benra-benar buntu dan pecah tak karuan. Karena berbicara dengan Fadlan, hanya akan memperkeruh suasana. Dengan terburu-buru,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN