Hari berikutnya. Matahari tegak memukul pasar, membuat udara beraroma campuran tanah basah, sayur segar, dan keringat manusia. Pedagang berteriak, anak-anak berlari, ibu-ibu saling banting harga. Zahra berjalan bersama Shela sambil membawa tas belanja kosong. “Kita ke lapaknya Bu Ati dulu, Mbak. Wortelnya selalu ajib,” kata Shela semangat. “Boleh,” Zahra mengangguk. “Nanti kita beli bawang juga ya, Shel?” Belum sempat Shela menjawab, suara serak, bau alkohol yang menusuk, muncul dari belakang. “Eh… Mbak-mbak cantik belanja di sini juga ternyata?” Zahra menoleh. Tiga lelaki muda, mabuk, mata merah, jalannya sempoyongan, berdiri sambil menyeringai. Salah satu yang bertopi kusam menatap mereka dari bawah ke atas, jelas tidak sopan. “Siang panas ketemu dua Mbak cakep… rezeki banget dah

