“Apa kabar, Na?” Sean duduk, dikursi di samping ranjang yang ditiduri Qiana. Hari ini, adalah hari yang ketujuh, Qiana dalam masa komanya. Erlangga sedang pulang, itu pun Eva yang memaksanya. Karena cowok itu sudah terlihat lelah dan lemah. Eva tidak mau anak orang lain jadi sakit karena Qiana. “Lo makin cantik aja, Na.” Perlahan Sean menggenggam hangat tangan Qiana. “Maafin gue, Na. Hari itu gue emosi. Gue nggak bermaksud nyakitin lo, gue terlalu sayang sama lo, makanya gue cemburu pas gue tahu lo mau nemuin Erlangga. Maafin gue, ya?” Sean menarik napas dalam, ia menahan sesak di dadanya melihat gadis yang disayanginya terkapar lemah seperti itu, membuatnya benar-benar merasa tak berguna. Qianalah selama ini yang selalu berada di sisinya, menemaninya dan menguatkan dirinya. “Lo ta