Lima Tahun Kemudian. “Cahya!” Suara lembut tapi tegas dari seorang lelaki dewasa menggema di antara pepohonan taman kota. Gadis kecil berusia lima tahun itu, dengan langkah kecil yang lincah dan senyum lebar di wajahnya, berlari-lari riang, menikmati setiap momen di bawah sinar matahari. Rambutnya yang terurai bebas terayun-ayun mengikuti gerak tubuhnya yang penuh semangat, seakan dunia adalah tempat bermain yang tak ada habisnya. “Papah, ada es krim!” teriak Cahya, dengan mata bulatnya yang berbinar-binar penuh kegembiraan saat melihat gerobak es krim yang menarik perhatiannya. Jari kecilnya menunjuk ke arah tukang es krim yang tengah sibuk melayani pelanggan lain, namun bagi Cahya, hanya es krim itu yang menjadi fokus dunianya saat ini. “Tapi kamu belum makan, sayang,” ujar lelaki itu
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari