"Terima kasih, tuan telah menolong saya," suara Nurani terdengar lemah, namun penuh ketulusan, saat ia duduk berhadapan dengan seorang lelaki di sebuah rumah yang sederhana. Matanya yang sayu menyiratkan keletihan, namun di balik kelelahan itu, ada kehangatan yang ia rasakan dari tatapan lelaki di depannya. "Saya senang melakukannya," sahut laki-laki itu dengan suara lembut, seolah kata-katanya adalah bisikan angin yang menyentuh lembut permukaan air. Tatapannya penuh simpatik, menyiratkan kerinduan yang dalam untuk melindungi, meski ada badai yang mungkin akan datang. Nurani menunduk sejenak, menimbang kata-katanya sebelum berbicara lagi. "Kenapa tuan menolong saya? Kalau sampai Tuan Aron tahu ini, maka nyawa Tuan bisa terancam," suaranya bergetar sedikit, penuh kekhawatiran. Laki-laki