"Evelyn." Damian akhirnya memanggil Evelyn. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat diskusi itu terhenti. Evelyn menoleh, matanya membulat saat mendapati Damian berdiri di depannya, dengan raut wajah yang sulit diartikan. Teman-teman Evelyn pun seketika menjadi canggung, sebagian besar langsung merapikan buku-buku mereka karena merasa sungkan dengan kehadiran Damian yang dikenal cukup tegas. "Eh, Pak Damian. Ada apa memanggil saya?" tanya Evelyn sambil berusaha bangkit berdiri dengan susah payah karena tangan kanannya yang di-gips. "Bisa kita bicara? Ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap Damian yang sebenarnya adalah ajakan untuk pulang bersama. Teman-teman Evelyn saling lirik. "Eve, kita lanjut di grup w******p saja, ya? Lagian data di laptop ini sudah hampir leng

