"Iya, Pah," sapa Evelyn yang kini berada di depan lift yang sepi.
"Akhirnya kamu angkat juga telepon dari Papa. Sekarang cepat kamu ke rumah Opa, Conny menangis dari tadi karena kamu tampar."
Evelyn berdecak kesal saat mendengar suara sang ayah yang emosi.
"Aku nggak mau ke rumah Opa kalau kalian hanya ingin menyudutkanku," tolak Evelyn dengan nada dingin.
"Evelyn!!!"
Evelyn menjauhkan ponsel saat mendengar suara teriakan sang ayah yang menggelegar. Dua detik kemudian, dia kembali mendekatkan ponselnya dalam jarak tiga centi dari telinga. Berjaga-jaga agar tidak terkejut saat sang ayah kembali berteriak.
"Jangan kurang ajar kamu sama orang tua. Kalau Papa bilang cepat ke mari, kamu harus ke sini tanpa membantah."
Sambungan terputus sepihak. Evelyn menatap layar ponselnya cukup lama, lalu mengembuskan napas kasar. Tangannya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang kembali bergejolak di dalam d**a.
"Eve. Kali ini kamu nggak boleh menyerah," gumam Evelyn sembari melangkah keluar dari kampus.
Namun tanpa Evelyn sadari, Damian mendengarkan percakapan itu dengan jarak yang tak terlalu jauh. Pria itu menatap punggung Evelyn yang memasuki lift dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
***
Suasana tegang menyambut Evelyn ketika dia memasuki kediaman sang kakek yang bernama Alfredo Harrison. Langkah kaki gadis itu semakin berat saat menyadari seluruh pasang mata memandanginya seperti seorang tersangka maling ayam.
Ruang tamu yang didominasi barang antik itu kini lebih mirip ruang sidang. Semua anggota keluarga Harrison siap menunggu Evelyn duduk di kursi 'terdakwa'. Di mana korbannya adalah Conny, sedangkan Alfonso bertindak sebagai hakim.
Evelyn melirik sekilas Albert yang hanya menampilkan ekspresi datar. Tak lama seringai sinis pun muncul pada wajah cantiknya, dia sadar jika sang ayah tidak akan berperan sebagai pengacara yang akan membela dirinya.
Berbanding terbalik dengan orang tua Conny yang memainkan peran sebagai jaksa penuntut umum dengan baik.
"Evelyn."
Suara Alfredo menarik Evelyn dari lamunan, dia menatap sang kakek dengan wajah polos atau lebih tepatnya wajah pura-pura tak bersalah.
"Iya, Opa."
"Apa kamu tahu apa kesalahanmu?" tanya Alfredo dengan napas agak tersengal, efek serangan jantung yang dia alami 5 bulan yang lalu membuat pria berusia 78 tahun itu mudah merasa sesak.
"Aku nggak tahu, Opa," jawab Evelyn yang jelas-jelas adalah kebohongan.
"Evelyn. Kamu nggak usah pura-pura lupa kalau udah nampar aku di kampus tadi," sambar Conny yang tak ingin kehilangan momentum untuk menambah kesalahan Evelyn.
"Pah. Ini akibatnya karena Albert membiarkan Evelyn bertindak semaunya. Anak ini jadi pembangkang dan nggak tahu aturan." Kali ini Alfonso, adik sang ayah yang berbicara. Bahkan sang paman menunjuk Evelyn dengan raut wajah murka.
Alfredo mengembuskan napas panjang sebelum kembali berbicara. "Bisa kalian berdua diam dulu? Aku sedang bertanya sama Evelyn."
Suasana kembali hening, tidak ada yang berani untuk berbicara jika tidak ingin mendengar ceramah dari Alfredo. Pria paruh baya itu kembali menatap Evelyn dengan ekspresi datar.
"Eve. Apa benar yang dibilang Conny kalau kamu menamparnya? Bukannya kamu tahu kalau itu perbuatan yang sangat tidak beretika," tanya Alfredo yang lebih terdengar sebagai pernyataan.
"Iya. Aku memang nampar Conny, itu semua karena dia menuduhku yang tidak-tidak."
Evelyn berusaha membela diri, meski di dalam hati dia tahu jika pembelaan itu tidak akan berdampak apapun. Setidaknya kali ini dia ingin mencobanya.
"Opa! Evelyn bohong. Dia marah karena Roby putusin dia. Udah selingkuh sekarang jadi sugar baby." Mata Evelyn terbelalak saat Conny berani melempar fitnah di depan keluarga mereka.
"Conny! Beraninya kamu memutarbalikkan fakta. Aku nggak pernah selingkuh dan jadi sugar baby!" bantah Evelyn dengan nada suara meninggi.
Namun Alfonso melihat itu sebagai celah untuk menjatuhkan sang kakak, dia juga tak peduli apakah ucapan Conny fakta atau sekadar bualan.
"Conny. Kamu kenapa bisa ngomongin yang jelek tentang Evelyn? Dia itu sepupu kamu," ucap Alfonso sembari melempar kode kepada sang putri.
"Aku ngomongin fakta, Pah. Tadinya aku nggak mau buka aib Evelyn, tapi dia semakin keterlaluan, Pah." Conny yang menangkap kode Alfonso menambahkan bumbu kebohongannya.
Evelyn seketika menggeram kesal saat melihat drama yang ditampilkan keduanya, dia sudah siap menyanggah semua tuduhan itu. Namun tertahan karena Albert berbicara mendahuluinya.
"Teruskan ceritamu, Conny."
Akhirnya dengan menahan kesalahan, Evelyn kembali duduk. Di dalam hati dia bersumpah akan melucuti image anak baik yang diperankan oleh Conny.
"Semua orang dikampus tahu seberapa busuknya kelakuan Evelyn di kampus. Dia itu nggak ragu menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya ...."
Conny sengaja menggantung ucapannya dan memasang raut wajah memelas. Semua anggota keluarga yang sejak awal tidak menyukai Evelyn langsung menatap jijik ke arah gadis itu.
"Di kampus ada dosen baru dan Evelyn nggak segan menggoda dosen itu supaya dapat nilai yang bagus."
Bersamaan dengan selesainya kebohongan Conny, suara riuh tercipta di ruang tamu itu. Segala hujatan dan caci maki mulai tertuju pada Evelyn.
"Om nggak sangka kamu bisa terjerumus sejauh ini, Eve," ucap Alfonso yang berniat mengintimidasi Evelyn.
Namun, mereka semua melupakan fakta jika Evelyn tumbuh bersamaan dengan hujatan itu sejak sang ibu diusir oleh Albert. Jadi segala macam intimidasi tidak dapat menggoyahkan Evelyn, bahkan dia menatap dingin Alfonso.
"Om jangan sok kaget gitu," ucap Evelyn tenang, tapi suaranya tajam seperti pisau yang baru diasah. "Sejak kapan kalian percaya sama aku?"
Suasana mendadak senyap. Nada Evelyn bukan nada anak bersalah, tapi lebih mirip seseorang yang sudah terlalu lama diinjak dan akhirnya lelah untuk tunduk.
"Evelyn!" Albert bangkit setengah berdiri. "Kamu masih berani kurang ajar di depan Eyang?"
Evelyn tertawa kecil. Tawa yang getir dan tanpa humor sedikit pun. "Aku kurang ajar karena membela diri? Papa kok lucu banget, sih?" ucapnya dengan sarkas.
"Dasar nggak tahu malu!" Conny berdiri, air matanya jatuh satu-satu dengan dramatis. "Kamu sudah buat malu keluarga kita, Eve!"
Evelyn menoleh perlahan ke arah Conny. Tatapannya menusuk, membuat sang sepupu refleks menelan saliva.
"Tutup mulutmu kalau kamu masih mau menangis dengan cantik!" balas Evelyn dengan nada agak meninggi.
Conny terdiam. Wajahnya pucat sepersekian detik sebelum kembali berlindung di balik lengan Alfonso. Tak lama Ponselnya yang ada di saku jeans bergetar, Conny yang memang sedang menunggu sebuah pesan langsung membaca. Sebuah senyum kemenangan pun tercipta pada wajahnya.
"Cukup!" Alfredo mengetukkan tongkatnya ke lantai. Dadanya naik turun, jelas menahan emosi. "Evelyn. Apa kamu membantah semua tuduhan itu?"
"Iya, Eyang," jawab Evelyn tanpa ragu. Semua yang Conny bilang itu fitnah."
"Lalu bagaimana dengan kamu yang pergi ke klub kemarin malam?" tanya Conny yang membuat mata Evelyn melebar.
'b*****t! Dari mana dia tahu aku pergi ke klub.' Maki Evelyn di dalam hati.
"Lihat. Evelyn nggak bisa membantah, artinya benar kalau dilub."
"Evelyn!"
Sebuah tamparan mendarat pada pipi Evelyn, membuat wajah gadis itu tertoleh ke samping.