7.Gosip yang Mulai Berhembus Kencang

1027 Kata
"Memalukan! Papa nggak pernah ngajarin kamu buat pergi ke klub. Ini pasti pengaruh dari mamamu. Mulai sekarang Papa larang kamu ketemu sama wanita itu." Evelyn memegang pipinya yang berdenyut nyeri, tak lama lidahnya merasakan cairan asin bercampur logam. Tanpa melihat, Evelyn tahu jika ujung bibirnya terluka dan mengeluarkan darah. Pipi Evelyn memang sakit, tapi tak sebanding dengan rasa sakit yang tertoreh pada hatinya. Saat pria yang seharusnya melindungi, malah bertindak sebaliknya. Gadis itu lalu memandang Albert dengan sorot mata yang lebih dingin dari sebelumnya. Sementara Albert menyesal karena telah menampar sang putri, apalagi saat ini mereka sedang berada di dalam pertemuan keluarga. "Memangnya Papa pernah ngajarin aku bagaimana harus bersikap?" ucap Evelyn yang langsung menancap ke hati Albert. Alfredo yang melihat suasana mulai tak kondusif segera memegang kendali, dia mengetuk kuat tongkatnya guna untuk mendapatkan perhatian. "Kita tidak akan bisa mendapatkan solusi jika kalian dalam keadaan emosi. Lebih baik kita akhiri saja pertemuan hari ini," ucap Alfredo dengan nada tak terbantahkan. Evelyn mengembuskan napas panjang, merasa kesal sekaligus lega dengan keputusan sang kakek untuk menghentikan pertemuan ini. Lega karena terlepas dari hujatan dan cibiran, meskipun untuk sementara. Kesal karena Albert selalu menghentikan pertemuan jika merasa keadaan tak menguntungkan baginya. "Aku mau istirahat dulu, terserah kalian masih tetap mau di sini atau pulang," ucap Albert memberi kode agar pria yang menjadi perawatnya membantu berdiri. Semua memandang Alfredo dengan tatapan khawatir, tapi tidak Evelyn yang menganggap biasa saja. Mungkin pengaruh dari ketidakadilan yang dia terima sejak kecil, membuat empatinya menghilang. Setelah bayangan Alfredo tak lagi terlihat, Evelyn mulai melangkah keluar. Hanya tidur yang ada dipikiran gadis itu untuk saat ini. "Evelyn. Kamu mau ke mana?" Pertanyaan Albert menghentikan langkah Evelyn, gadis itu berbalik dan melihat sang ayah berdiri tak jauh dari tempatnya berada. "Pulang terus tidur," jawab Evelyn singkat. Keheningan yang canggung tercipta di antara sepasang ayah dan anak itu, tidak ada yang mau menurunkan ego untuk memulai percakapan. "Aku pulang duluan," ucap Evelyn setelah lima menit berlalu, dan tanpa menunggu reaksi Albert gadis itu meninggalkan kediaman Alfredo. Saat akan masuk ke dalam mobil, Evelyn berpapasan dengan Conny. Namun dia berpura-pura tidak melihat karena sudah terlalu lelah. Akan tetapi, Conny tak berniat melepaskan Evelyn begitu saja. Gadis itu berdiri di samping sang sepupu dengan tatapan mengejek. "Kamu lihat sendiri 'kan kalau aku selalu mendapatkan kepercayaan dari keluarga ini," sindir Conny sambil menyilangkan tangan di d**a. Senyum tipisnya penuh kemenangan. Evelyn membuka pintu mobilnya, lalu menoleh ke arah Conny yang langsung merinding saat melihat tatapan gelap dari sang sepupu. "Minggir." "Kenapa?" Conny mendekat satu langkah. "Takut? Atau malu karena Om Albert lebih percaya sama aku daripada kamu yang anak kandungnya sendiri." Evelyn terkekeh pelan. Bukan tawa bahagia, tapi tawa seseorang yang sudah sampai di titik jenuh. "Conny. Kamu tahu nggak, apa bedanya kita?" Conny mengangkat dagu dengan arogan. "Apa?" "Aku sudah terbiasa hidup dalam hujatan dan cibiran dari kecil. Sedangkan kamu hidup dari kebohongan dan perlindungan orang lain," jawab Evelyn tenang. Wajah Conny mengeras. "Kamu merasa paling menderita, ya? Jangan sok jadi korban, Eve. Kalau kamu nggak macam-macam, Om Albert juga nggak mungkin bakal nampar kamu." Ucapan itu seperti menampar luka Evelyn yang belum kering. Namun gadis itu tersenyum lebar, karena dia tak boleh terlihat lemah di hadapan Conny. "Kita lihat saja siapa yang akan tertawa di saat terakhir," ucap Evelyn sembari melayangkan tatapan tajam, membuat Conny tak berani berbicara. Setelah memastikan Conny diam di tempatnya, Evelyn segera masuk ke dalam mobilnya meninggalkan kediaman sang kakek. Mesin mobil menyala, dan halaman rumah Alfredo perlahan menjauh dari pandangan. Evelyn menatap lurus ke depan, namun rahangnya mengeras. Tangan gadis itu mencengkeram setir lebih kuat dari biasanya, seolah itu satu-satunya cara agar emosinya tidak tumpah berantakan. Begitu mobil Evelyn keluar dari gerbang rumah Alfredo, air mata sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah tanpa suara. "Memalukan," gumam Evelyn lirih, menirukan ucapan Albert dengan senyum pahit. "Kita lihat nanti seberapa memalukannya aku di mata kalian." 30 menit kemudian, Evelyn tiba di kediaman Albert dan segera menuju kamarnya. Karena terlalu lelah membuat gadis itu terlelap begitu tubuhnya menyentuh kasur. Entah berapa lama Evelyn terlelap, yang pasti dia terbangun saat alarm ponselnya berbunyi. Langit gelap tak lama berganti cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah tirai. Kepala Evelyn terasa berat, pipinya masih nyeri dan bibirnya perih setiap kali bergerak. Namun dia memaksakan diri untuk bangun dari kasur empuknya. Dengan susah payah Evelyn menuju meja riasnya, dia mengambil cermin bulat dan tertegun saat melihat pantulan dirinya. Bekas tamparan Albert masih samar terlihat, membentuk bayangan merah kecokelatan di pipinya. Ujung bibirnya sedikit pecah. Evelyn menyentuhnya pelan, lalu tersenyum miring. "Sempurna," gumam Evelyn hambar. Bukan luka di wajah yang membuat d**a Evelyn sesak, melainkan ingatan tentang betapa mudahnya Albert menjatuhkan hukuman tanpa bertanya. Bunyi alarm yang kedua menarik kesadaran Evelyn, dia harus segera membersihkan diri dan merias wajahnya untuk menutupi bekas tamparan Albert kemarin. Dia tak mau pergi ke kampus dengan wajah seperti ini dan menambah citra buruk yang sudah terlanjur melekat di dalam dirinya "Pakai masker aja, deh," gumam Evelyn saat menyadari jika riasan tak mampu menutupi ujung bibirnya yang sobek. Perutnya tiba-tiba berbunyi, tapi Evelyn memilih untuk tidak sarapan di rumah. Alasannya tentu saja karena tak ingin bertemu dengan Albert. Suasana rumah masih sepi ketika Evelyn keluar dari kamarnya, belum ada ART yang membersihkan lorong lantai dua. Evelyn melangkah pelan menuruni tangga, berusaha tidak menimbulkan suara. Rumah mewah Albert terlalu sunyi, tapi bukan jenis sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan. Seperti ada sisa amarah yang masih menggantung di udara. Evelyn mempercepat langkahnya, menghindari pertemuan dengan Albert. Sikap terburu-buru gadis itu membuat security yang berjaga di pos depan mengernyit, bingung dengan tingkah laku sang nona yang aneh. Di dalam mobil, Evelyn menghela napas panjang. Dia melepas masker sejenak, mengusap bibirnya yang perih, lalu memakainya kembali. Jalanan pagi cukup lengang, tapi pikirannya tidak. Di kampus, seperti biasa, Evelyn berjalan cepat menuju gedung fakultas. Namun bisik-bisik yang terdengar di sepanjang koridor membuat langkah Evelyn melambat. "Katanya berselingkuh dari Roby terus jadi sugar baby." “Pantas aja penampilannya glamor seperti itu." Evelyn malah memperlambat langkahnya, seolah sengaja memperlihatkan kepada para penggosip itu jika dia tidak terpengaruh dengan ucapan-ucapan itu. "Evelyn." Suara itu menghentikan langkah Evelyn yang akan menuju ruang kelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN