1 - Luka yang Tak Berdarah
Suara decit sepatu basket menggema di lapangan indoor SMA Cakrawala.
Dari atas tribun, Bingah duduk memeluk lututnya. Tatapannya lurus pada cowok bernomor punggung sepuluh yang baru saja mencetak angka.
Ardi. Cowok itu selalu bersinar di lapangan. Namun sore ini, sinarnya justru membuat d**a Bingah terasa sesak.
Biasanya, Bingah akan langsung berlari turun membawa botol air mineral dingin dan handuk kecil. Itu rutinitas mereka sejak masih sekolah dasar. Tapi hari ini, botol air itu dibiarkan tergeletak di samping tas ranselnya.
Poros dunianya yang biasa berputar di sekeliling Ardi, kini mendadak bergeser.
Di pinggir lapangan, seorang cewek berambut kuncir kuda berdiri sambil melambaikan tangan dengan heboh. Aisah, siswi pindahan baru itu tampak sangat serasi berada di sana.
'Tempat itu memang bukan buatku lagi,' batin Bingah getir.
Bingah bangkit berdiri. Ia buru-buru menyampirkan tasnya, berniat pergi sebelum tertangkap basah. Namun, sebuah teriakan nyaring menghentikan langkahnya.
"Bingah! Turun sini!" panggil Ardi sambil melambaikan tangan.
Bingah menghela napas. Dengan berat hati, ia menuruni anak tangga tribun.
"Kenapa di atas saja sejak tadi?" tanya Ardi begitu Bingah sampai di dekatnya. Senyum cowok itu merekah lebar.
Tanpa canggung, Ardi langsung merangkul bahu Aisah di depan Bingah. "Sini, aku mau kenalin kamu lebih resmi sama Aisah."
Aisah tersenyum sangat manis. "Hai, Kak Bingah. Ardi sering cerita tentang Kakak. Katanya Kakak ketua mading yang paling keren."
Bingah memaksakan senyum tipis. "Hai. Cuma menjalankan tugas kok."
"Ngomong-ngomong soal mading," Ardi menyela, nadanya berubah serius. "Aisah suka banget nulis puisi. Dia pengen banget gabung ke tim mading kamu. Bisa dimasukkan ke daftar anggota sekarang, kan?"
Bingah tertegun. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena sisa rasa suka, melainkan karena tidak percaya dengan keegoisan sahabatnya ini.
"Ardi, kamu tahu sendiri pendaftaran sudah tutup bulan lalu. Kuota kita sudah penuh, dan tim lagi fokus buat layout edisi bulan depan," jelas Bingah, berusaha menjaga suaranya tetap profesional.
Wajah Ardi langsung berubah mendung. "Ayolah, Ngah. Kamu kan ketuanya. Masalah kecil begini masa tidak bisa dikasih pengecualian? Cuma tambah satu orang saja."
'Cuma katanya?' Bingah menahan napas. Rasa sakit di dadanya semakin menjadi. Bagaimana bisa Ardi meremehkan aturan organisasinya hanya demi menyenangkan cewek baru?
"Peraturan tetap peraturan, Ardi. Kalau pendaftaran sudah ditutup, ya tidak bisa pakai jalur belakang."
Sebuah suara berat memotong perdebatan mereka. Dani berjalan mendekat dengan wajah datar yang tak terbaca. Cowok itu langsung mengambil posisi berdiri tepat di samping Bingah.
"Ini urusan mading, Dan. Aku tidak minta pendapatmu," sahut Ardi ketus.
Dani tidak bergeming. Tatapannya menatap Ardi dengan tajam. "Bingah itu ketua yang jujur. Jangan paksa dia merusak integritasnya cuma karena kamu mau pamer jadi pahlawan di depan pacarmu."
Suasana lapangan basket mendadak mendingin. Rahang Ardi mengeras, siap meluapkan emosi.
Aisah yang merasa tidak enak segera menarik lengan baju Ardi. "Sudah, Di. Jangan dipaksa kalau memang tidak bisa. Aku tidak mau merepotkan Kak Bingah."
Ardi mengembuskan napas kasar. Ia menatap Bingah dengan sorot mata kecewa yang sangat menyakitkan.
"Aku pikir kita cukup dekat untuk saling bantu, Ngah. Ternyata aku salah menilai kamu," ucap Ardi sinis.
Tanpa menunggu balasan, Ardi berbalik dan menarik tangan Aisah meninggalkan lapangan.
Bingah terpaku di tempatnya. Sepasang matanya mulai terasa panas dan berkaca-kaca. Rasanya ada sesuatu yang patah di dalam dadanya.
"Jangan didengar," bisik Dani lembut.
Bingah menoleh pada Dani. Cowok di sampingnya ini adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menuntut apa pun darinya. Satu-satunya orang yang tahu kapan ia sedang berpura-pura kuat.
"Aku cuma menegakkan aturan, Dan. Tapi kenapa rasanya aku yang jadi orang jahat?" suara Bingah mulai bergetar.
Dani mengulurkan tangan, menepuk bahu Bingah dengan pelan. "Kamu tidak salah. Kamu cuma sedang belajar berhenti jadi tempat sampah buat ego orang lain. Ayo pulang, aku antar."
Bingah hanya bisa mengangguk lemah. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran motor.
Di sepanjang jalan pulang, keheningan menyelimuti mereka. Bingah menatap jalanan yang padat, mencoba mencerna rasa perih yang menjalar di hatinya.
Sementara di depannya, Dani fokus berkendara namun sesekali memeriksa keadaan Bingah lewat kaca spion. Dani berjanji dalam hati untuk menjadi pelindung yang lebih kuat bagi gadis itu.
Motor Dani berhenti tepat di depan pagar rumah Bingah.
"Terima kasih ya, Dan. Maaf selalu merepotkanmu," ujar Bingah saat menyerahkan helm.
"Tidak pernah merepotkan, Ngah. Sekarang istirahatlah. Besok di sekolah, jangan biarkan siapa pun menginjak harga dirimu lagi, termasuk Ardi."
Bingah tersenyum tipis, merasa sedikit hangat karena perhatian kecil itu. "Iya, Dan."
Malamnya di kamar yang sunyi, Bingah duduk menghadap meja belajar. Ia menatap buku jurnal madingnya, lalu beralih pada ponselnya yang sepi tanpa pesan dari Ardi.
'Pulang ke hati yang menunggu,' gumam Bingah lirih.
Ia menyadari satu hal. Selama ini ia sibuk mengejar orang yang salah dan mengabaikan dirinya sendiri. Mulai besok, ia bertekad untuk berubah. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri tegak tanpa harus bergantung pada kepedulian semu dari Ardi.