“Bukankah kebanyakan wanita memiliki tujuan untuk bisa hidup seperti yang kukatakan? Meski menuntut ilmu tinggi, memiliki jabatan bagus, gaji besar, memiliki usaha sukses, tapi kalau rumah tangganya hancur, semua itu tidak akan ada gunanya lagi,” ucap Roland dengan gayanya yang bijaksana, tapi itu murni keluar dari lubuk hati, bukan hanya sekedar gombalan. “Memangnya siapa pria yang bisa memberikan aku perhatian dan kasih sayang seperti itu? Aku tidak memiliki pacar, aku tidak memiliki calon suami. Siapa yang akan menjadi teman hidupku?” lirih Beby yang tanpa sadar sejak tadi melayani obrolan Roland dengan baik. “Aku.” “Kau?” Beby mengangkat alis dengan tatapan serius. “Ya, kenapa?” Beby mengernyit, dan baru sadar tubuhnya kini sedang berada di dalam pelukan Roland saat mencium aro

