bc

Mengejar Hot Duda Premium

book_age18+
120
IKUTI
1.5K
BACA
dark
family
HE
age gap
friends to lovers
drama
sweet
campus
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

"Tolong aku, Om!"

Di bawah pengaruh obat perangsang, otak gadis remaja itu tak lagi bisa berpikir jernih. Dia memohon, entah agar dibebaskan dari sensasi aneh yang membakar tubuhnya, atau malah menyerahkan dirinya pada pria asing yang menolongnya.

Malam kelam yang memalukan itu seharusnya menjadi batas. Namun, justru menjadi awal dari sebuah kecanduan. Duda premium yang 'menyelamatkannya' itu kini menjadi pusat dunianya, objek obsesi gila yang tak terhindarkan.

Dia menginginkannya. Bukan hanya sebagai penolong, tetapi sebagai pemilik.

Bagaimana sang Duda akan menghadapi gadis gila yang terobsesi padanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kencan dengan Pria Tinder
Ghea melempar tubuhnya ke atas kasur lipat di kamar kos kecil milik Claudia dengan kekuatan penuh, seolah-olah kasur tipis itu adalah awan empuk di surga. Kakinya mengayun-ayun kegirangan di udara, hampir saja mengenai tumpukan buku akuntansi yang tersusun rapi di pojok ruangan. Bibirnya tak berhenti melengkung membentuk senyum lebar, jenis senyum yang biasanya hanya muncul kalau dia baru saja memenangkan lotre—atau dalam kasus ini, mendapatkan mangsa baru yang "premium". "Kau tahu, Cla? Dunia ini baru saja memberikan kompensasi atas penderitaanku selama semester ini!" tanyanya, suaranya melengking antusias, memantul di dinding kosan yang mulai mengelupas. Claudia, yang sedang menatap layar laptopnya mencoba memahami formula rumit di spreadsheet akuntansi, hanya menghela napas. Dia tidak menoleh. Dia sudah hapal fase ini. Fase di mana Ghea merasa telah menemukan "Pangeran Berkuda Putih", yang biasanya berakhir menjadi "Pria Berkuda Lumping" alias zonk. "Reza yang mana lagi, Ghea?" Claudia bertanya datar, jarinya mengetuk-ngetuk tombol enter dengan irama yang penuh tekanan batin. "Reza yang bilang dia arsitek tapi ternyata cuma jago bangun ekspektasi palsu? Atau Reza yang posting foto kopi di i********: tapi pas bayar split bill sampe ke harga sedotannya?" Ghea bangkit dengan gerakan lincah, merangkak di atas kasur, dan tanpa rasa berdosa sedikit pun, dia menutup layar laptop Claudia. "Ish! Jangan sinis begitu dong! Aura negatif lo itu bikin jodoh gue menjauh tahu nggak!" sergah Ghea. "Reza yang ini beda level, Cla. Dia freelance, tapi bicaranya sopan banget, seprei tempat tidurnya aja kelihatan pakai thread count tinggi dari foto kamarnya. Dia tahu banyak tentang fotografi! Gue udah stalking sampe ke f*******: tantenya, dan dia nyata. Lihat!" Ghea menyodorkan ponselnya tepat ke depan hidung Claudia. Foto profil Reza menunjukkan pria dengan kemeja biru muda yang pas di badan, memegang gelas wine dengan latar belakang kafe mewah. Senyumnya memang menawan, jenis senyum yang menurut Ghea bisa menyembuhkan penyakit anemia saking manisnya. Claudia menjauhkan ponsel itu, matanya menyipit. Sebagai calon akuntan, dia terbiasa mencari celah dalam laporan keuangan, dan profil Reza terlihat terlalu... "diaudit". "Dia mengajakmu ke mana?" "Dia bakal jemput gue di Gang Mawar—bayangin, cowok sekelas dia mau masuk ke gang sempit kita—terus kita bakal makan di sebuah restoran fine dining di daerah Senopati. Senopati, Cla! Area di mana harga parkirnya aja mungkin setara uang makan gue tiga hari!" Ghea berteriak kecil, menirukan gerakan makan elegan dengan sendok imajiner. "Gue udah riset menunya. Gue bakal pesan yang paling mahal, tapi tetap kelihatan kayak cewek yang makannya dikit demi menjaga citra." Claudia menutup laptopnya sepenuhnya. Dia memutar kursi, menatap Ghea dengan ekspresi "Kakak Tertua". "Ghea, dengerin gue. Lo itu haus perhatian, dan gue tahu lo benci kalau gue mulai ceramah. Tapi ini red flag yang dikasih lampu neon. Kalian baru kenal dua minggu. Di Tinder. Yang komunikasinya cuma lewat chat yang penuh emoji cinta." "Dia udah verifikasi akun, Cla," bela Ghea, nadanya mulai sedikit defensif. "Centang biru! Sama kayak akun artis!" "Verifikasi di Tinder itu cuma butuh selfie sambil monyongin bibir, bukan bukti dia nggak bakal jual ginjal lo!" sergah Claudia. "Pria tampan, kaya, mau jemput di gang kosan buat kencan pertama ke tempat mahal? Itu taktik, Ghea. Dia pengen lo ngerasa berhutang budi. Begitu lo ngerasa nggak enak karena udah ditraktir mahal, lo bakal susah buat bilang 'nggak' kalau dia minta yang aneh-aneh. Itu namanya manipulasi psikologis tingkat dasar!" Ghea cemberut, ia merebahkan diri kembali, menatap langit-langit kamar yang ada noda rembesan air hujan. "Lo selalu mikir yang nggak-nggak. Siapa tahu dia emang inner child-nya pengen jadi pahlawan buat cewek kosan kayak gue? Gue pengen ngerasain hidup, Cla. Gue benci hari-hari gue yang isinya cuma nungguin dosen yang sering telat dan makan mi instan yang diseduh di gelas." Claudia meraih tangan sahabatnya. "Gue cuma nggak mau lo kenapa-napa. Dunia ini nggak seindah drama Korea yang pemeran utamanya duda kaya terus jatuh cinta sama mahasiswi miskin. Di dunia nyata, yang kayak gitu biasanya udah punya istri tiga atau ternyata anggota sindikat penipuan." "Gue bawa semprotan merica yang bentuknya kayak lipstik, kok. Dan gue bakal sharing location sama lo selamanya. Kalau titik gue berhenti di gudang tua, lo langsung telpon tim gegana ya?" Ghea mencoba melucu, meski hatinya sedikit menciut. Claudia mendesah kalah. "Tiga syarat. Nggak boleh nego. Satu, sharing location ON terus. Dua, foto plat nomornya begitu lo liat mobilnya. Tiga, begitu sampai di restoran, lo harus video call gue pura-pura nanya tugas. Gue mau liat muka aslinya tanpa filter." "Siap, Bos!" Ghea memberi hormat dengan riang. Pukul 20.00. Ghea berdiri di depan cermin kecil Claudia. Dia memakai dress hitam yang dia beli saat diskon akhir tahun—dress yang menurutnya memberikan aura "gadis mahal yang sulit didapatkan". Dia memoles lipstik merah menyala. "Lo yakin mau pakai hitam itu? Kelihatan banget lo pengen 'diterkam'," komentar Claudia dari balik meja belajar. "Ini namanya power statement, Cla. Biar dia tahu kalau gue cewek berkelas," balas Ghea sambil mengedipkan sebelah mata. Sebuah notifikasi masuk. Reza: Aku sudah sampai di depan gangmu. Pakai mobil silver. Sampai ketemu, Sayang. Jantung Ghea berdegup kencang. Antara takut dan nafsu untuk segera merubah status jomblonya. Dia mengambil tas selempangnya, lalu berbalik. "Doakan gue balik dengan status calon nyonya kaya." "Jaga diri lo, Ghea. Satu langkah salah, gue bakal blokir semua akses Tinder di HP lo selamanya," ancam Claudia, matanya tetap terpaku pada aplikasi Find My Friends. Ghea berjalan keluar menuju mulut Gang Mawar. Di sana, sebuah sedan silver mengkilap tampak kontras dengan tumpukan sampah di pojok gang. Jendela turun, dan wajah Reza muncul. Lebih tampan dari foto, lebih tajam, dan memiliki aroma parfum yang seketika membuat Ghea merasa seperti sedang berjalan di lorong mal mewah. "Hai, Ghea. Kamu cantik sekali malam ini," sapa Reza, suaranya berat dan menenangkan. Ghea tersenyum malu-malu, meski dalam hatinya dia sudah menjerit: MAMAH, ANAKMU BAKAL MENGUBAH NASIB! Begitu masuk, Ghea langsung melakukan ritualnya. Cekrek. Foto plat nomor F 1888 RZ terkirim ke Claudia. Ghea: Done. Ganteng banget, Cla! Gue mau pingsan tapi harus tetep estetik. Claudia: Fokus. Jangan minum apapun yang nggak lo liat dituangkan di depan mata lo. Mobil mulai membelah kemacetan Jakarta. Ghea mencoba mencairkan suasana. "Jadi, kita ke Senopati sekarang? Aku udah sengaja nggak makan siang biar bisa makan banyak di sana." Reza tertawa, suara tawa yang entah kenapa terdengar sedikit terlalu "siap". "Aku punya kejutan yang lebih baik, Ghea. Restoran itu terlalu berisik dan kaku. Aku ingin kita benar-benar rileks. Ada tempat spesial yang cuma orang-orang tertentu yang tahu." Insting Ghea sedikit berdenyut. "Tempat apa?" "Tempat di mana kita bisa minum, berdansa, dan melupakan semua beban hidupmu. Kamu butuh hiburan, kan?" Reza melirik Ghea, seringainya tipis, tapi penuh arti. Dan saat mobil itu melewati belokan yang seharusnya menuju Senopati, Ghea sadar: Ini bukan jalan menuju restoran. Ini jalan menuju kekacauan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.9K
bc

Kali kedua

read
219.4K
bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook