Garis Batas Seorang Penyelamat

854 Kata
​Cengkeraman Ghea pada leher Aryan semakin mengerat, panasnya tubuh gadis itu memancar menembus kain jas mahal Aryan. Dalam kabut gairah yang didorong oleh obat perangsang, Ghea menuntut dan merengek. ​Saat Aryan mencoba menarik diri, Ghea menahan wajahnya. Mata Ghea, yang seharusnya polos dan naif, kini tampak liar dan penuh api. Sebelum Aryan bisa mengucapkan protes lagi, Ghea bergerak cepat, bibirnya yang panas dan lembut sudah menempel pada bibir Aryan, melumatnya dalam keputusasaan dan hasrat. ​Aryan tertegun. Ia telah hidup selama tiga puluh delapan tahun sebagai pria yang kaku dan mengendalikan diri, tetapi ciuman liar yang mematikan logika itu mengejutkannya. Aroma parfum Ghea, dicampur dengan aroma alkohol dan putus asa, memabukkan. ​Sentuhan Ghea yang menuntut itu, alih-alih membuatnya jijik, justru membangunkan naluri primal yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. Selama bertahun-tahun, Aryan hanya mengenal bisnis, pertemuan dewan direksi, dan kesendirian yang dingin. Sekarang, ada kehangatan yang mendesak, kehangatan yang memohon untuk diterima. ​Pikirannya kosong, dan untuk sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Aryan membalasnya. Ia terhanyut. Tangan Aryan, yang tadinya menopang Ghea untuk menjaga jarak, kini mulai memeluk punggung gadis itu, membalas intensitas permainan yang Ghea pimpin. ​Ini salah. Ini sangat salah, teriak suara kecil di sudut otaknya yang rasional. Kau akan sama saja dengan pria b******k di bawah itu. ​Saat sentuhan Ghea bergerak lebih jauh, mencoba merobek kemejanya dengan kekuatan yang tidak proporsional, sebuah kilasan muncul di benak Aryan. ​Bukan kilasan masa lalu yang menyakitkan, melainkan wajah seorang gadis yang mungkin seumuran dengan gadis ini Jika ini terjadi padanya, bagaimana perasaannya? ​ ​"Hentikan!" desis Aryan, suaranya dalam dan terengah-engah. ​Ghea merintih, menatap Aryan dengan mata berair. Ia tidak mengerti mengapa penyelamatnya tiba-tiba meninggalkannya dalam kobaran api yang membakar tubuhnya. ​"Om... kenapa? Tolong... sakit... tolong..." Ghea memohon. ​Melihat mata Ghea yang dipenuhi penderitaan fisik, bukan gairah murni, membangkitkan rasa bersalah yang menusuk d**a Aryan. Ia tidak bisa membiarkan hasrat sesaat menghancurkan gadis ini. Ia harus menjadi penyelamat sejati, bukan pemangsa kedua. ​Aryan menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia segera menarik selimut tebal dan menutupi tubuh Ghea hingga leher. ​"Aku akan membantumu, tapi bukan dengan cara ini," kata Aryan, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas, mencerminkan CEO yang ia sembunyikan di balik jasnya. ​Ia mengambil ponselnya, tetapi alih-alih memanggil ambulans atau polisi—yang akan menimbulkan kegaduhan dan mempermalukan Ghea—Aryan mencari kontak seorang dokter kenalannya. ​Aryan mengirimkan pesan singkat, meminta bantuan darurat tanpa menjelaskan detailnya, hanya menekankan bahwa ini adalah kasus darurat drug-induced distress. ​Sambil menunggu balasan, Aryan bergerak ke kamar mandi. Ia membasahi handuk kecil dengan air dingin, lalu kembali ke sisi Ghea. ​"Kau harus tenang," katanya, menekan handuk dingin itu di dahi Ghea. ​Ghea menjerit kecil karena perbedaan suhu, lalu merangkul tangan Aryan. "Dingin... aku butuh... sentuhan..." ​"Tidak," Aryan menahan cengkeraman Ghea. Ia tidak bisa membiarkan Ghea menyentuhnya. Jika ia melakukannya, ia takut kendalinya akan hilang lagi. ​Aryan ingat dari beberapa laporan yang pernah ia baca, korban obat perangsang harus diyakinkan, didinginkan, dan diberi banyak cairan untuk membantu tubuh memproses zat kimia itu. ​Ia mengambil botol air mineral dari meja, membuka tutupnya, dan membantu Ghea untuk minum perlahan. Ghea melawan, lebih memilih untuk meracau. Aryan harus menahan dagunya dengan lembut namun kuat untuk memastikan Ghea minum. ​"Minum," perintahnya dengan nada lembut yang tegas. ​Sedikit demi sedikit, air dingin itu masuk ke tenggorokan Ghea. Aryan terus menyeka dahi, leher, dan lengan Ghea dengan handuk dingin. Tindakan fisiknya kini murni pertolongan, menekan semua hasrat yang baru saja muncul. ​Selama hampir satu jam, Aryan duduk di tepi ranjang, memerankan peran sebagai perawat yang kaku dan penuh rasa bersalah. Ghea sesekali merengek, memanggilnya 'Om' dan memohon, tetapi Aryan tetap teguh. Ia hanya fokus pada tugasnya. ​Akhirnya, ada balasan dari Dokter Hendra. Dokter itu tidak bisa datang, tetapi ia memberikan instruksi. ​Dr. Hendra: Berikan obat tidur dosis ringan yang bisa dibeli bebas (melatonin atau sejenisnya) dan pastikan dia tetap terhidrasi. Efeknya akan mereda dalam beberapa jam setelah obat tidur bekerja. Jaga suhu tubuhnya tetap dingin. Jangan panik. Dia hanya butuh tidur. Aku akan datang memeriksa besok pagi. ​Aryan menghela napas lega. Ia meminta layanan kamar untuk membawakan teh herbal penghangat dan beberapa obat pereda flu ringan yang ia harap mengandung melatonin. ​Ketika pelayan kamar datang, Aryan hanya membuka pintu sedikit, mengambil nampan, dan berkata bahwa rekannya sedang tidur. ​Ia memberikan Ghea teh hangat dan tablet itu, meyakinkannya bahwa ini akan menghilangkan rasa sakitnya. Ghea, yang sudah kelelahan melawan efek obat, menelan tablet itu. ​Tak lama kemudian, efek obat tidur mulai bekerja. Ghea yang tadinya liar dan meronta, kini menjadi tenang. Matanya mulai memberat, dan ia akhirnya terlelap, wajahnya kini tampak damai, kembali ke citra mahasiswi polos yang dilihat Claudia tadi sore. ​Aryan berdiri di samping ranjang, menatap gadis itu lama sekali. Punggung tangannya, tempat Ghea mencengkeramnya tadi, terasa seperti terbakar. ​Ia membiarkan Ghea tidur, lalu berjalan menuju jendela kaca besar di kamar mewahnya. Di bawah sana, kota Jakarta gemerlap, seolah merayakan kejahatan dan kenikmatan yang terjadi di malam hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN