Oleh karena pekerjaan yang menumpuk, Zakiyah pulang larut malam dan Zidane yang mengantarnya. “Terima kasih, Pak, padahal aku bawa mobil sendiri!” ucap Zakiyah begitu mereka turun dari mobil. Zidane tersenyum. “Kamu sudah bekerja sendiri seharian ini, akan sangat melelahkan jika harus berkendara juga,” katanya. “Juga, kamu itu sudah terlalu banyak tahu soal perusahaan, bisa dibilang sekarang kamu sudah menjadi aset penting juga untuk perusahaan, dan aku harus menjagamu!” tambahnya lagi. Zakiyah tertawa kecil karenanya. “Oke, jika aku aset penting, maka sudah pasti sangat berharga, ‘kan? Berapa kira-kira hargaku?” ujarnya berkelakar. Zidane termangu sebentar, menatap Zakiyah sedemikian rupa dengan senyuman manis di bibirnya. “Kamu terlalu berharga, Kiya, tak sebanding dengan apapun