Zakiyah mendorong d**a Jayden, lembut tanpa tenaga namun cukup untuk menunjukkan jika dia masih belum siap menerima lelaki itu. “Maaf,” ucapnya lirih. Jayden mengalah, menekan egonya melepaskan Zakiyah. Memberi ruang untuk dia dan Zakiyah sendiri, untuk sejenak menghela nafas. Sama-sama merasa sesak dengan arti yang berbeda. “Aku minta maaf, tapi aku tidak akan menyerah memberikan kamu waktu untuk mempertimbangkan semuanya, Kiya,” ucap Jayden, menatap wajah ayu yang berlinang air mata itu. Ingin sekali dia mengusap pipi halus itu dan meraihnya ke dalam pelukannya. “Permisi, aku sudah terlambat berangkat kerja!” ucap Zakiyah, berdiri tegak lalu menghapus air mata di wajahnya. Jayden hanya bisa terdiam membisu, melihat bagaimana wajah cantik Zakiyah berubah dingin dan kaku begitu berb