Tangannya meremas d**a, mencoba menahan rasa sakit yang tiba - tiba muncul. " Kenapa harus dia, Tuhan? Kenapa harus pria itu, yang jelas - jelas bukan untukku?" gumam Nadira. Nadira sadar betul, ini aib. Rasa yang harus dikubur dalam - dalam. Jika orang tahu apalagi Clarissa, ia sudah membayangkan betapa hancurnya keluarga mereka. Ia tidak bisa, tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Nadira menghela napas panjang, menatap kosong ke arah pintu kaca restoran yang gelap. Bayangan dirinya sendiri menatap balik, seolah menegur, "Kamu wanita dewasa, Nad. Jangan bodoh. Jangan sakiti siapa pun hanya karena perasaan yang salah." Namun rasa itu tak serta - merta hilang. Justru semakin ia lawan, semakin kuat ia mencengkeram. Nadira akhirnya berdiri, membereskan gelas, lalu mematikan lampu resto

