"Ya, Opa," jawab Bian sambil mengunci mobil dan berjalan mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamu Nadira diselimuti aroma harum lilin aromaterapi yang masih menyala di atas meja. Lampu gantung kuning keemasan menambah suasana hangat dan justru membuat Nadira makin tidak nyaman. "Ya, inilah rumah Nadira," ujar Papa Ary sambil menepuk bahu Bian. "Nggak terlalu besar, tapi cukup untuk tinggal sendiri. Apa kata orang sekarang, rumah cewek jomblo? Hahaha..." papa Ary tertawa ketika mengatakan hal itu, Bian hanya menampilkan senyum tipis, sementara Nadira mendengus dan berlalu ke ruang makannya. "Rumahnya enak, Opa," puji Bian. "Biar kecil tapi terasa nyaman." Dari arah ruang makan, Nadira bisa mendengarkan pujian itu, dan ini bukan pujian pertama, Bian sudah pernah mengatakan hal

