Pak Imran tidak mengerti kenapa putrinya bisa seperti itu. Beliau merasa sudah gagal mendidik putri semata wayangnya itu. Adena sudah memiliki hati yang baik dan meneduhkan lagi karena terobsesi dengan pria yang sangat ia cintai. “Aku tidak bisa membiarkan putriku melakukan hal bodoh. Aku harus bisa mengendalikan emosinya agar tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya,” gumam Pak Imran. Adena masih berada di dalam kamarnya. Dia masih memikirkan bagaimana caranya agar Agus bisa menjadi miliknya. Obsesinya memiliki Agus sudah mendarah daging pada dirinya. Ponsel Adena berbunyi. Nama Rino terlihat jelas di layar ponselnya. Sudah lama Rino selalu menelfon Adena atau menanyakan kabar Adena meski hanya lewat chating. Adena sekarang bekerja di tempat Rino. Dia ikut Rino bek