Kembalinya Aurora Ke Masa Lalu
“Mbak Zoya jangan … Mbak, ku mohon tolong jangan lakukan itu!” teriak Seorang wanita ketika melihat kakak iparnya semakin mendekat sambil memegang sebuah pisau tajam.
Ujung pisau itu seolah siap menancap pada anggota tubuh Aurora.
“Kamu harus mati, Aurora … kamu yang selalu menggagalkan rencana suamiku untuk membunuh suamimu. Jadi, ini sudah saatnya aku memusnahkan kamu. Kamu dan suamimu harus musnah, Aurora, agar semua harta warisan keluarga Danuarta jatuh ke tangan aku dan suamiku.” Wanita berambut sebahu itu tersenyum semrik. Kedua matanya menatap tajam ke arah Aurora yang mundur dengan perlahan.
Saat ini, mereka sedang berada di lantai dua, karena Zoya, istri dari kakak tiri suaminya Aurora, tiba-tiba saja mendatangi Aurora di kamarnya, wanita yang sedang gelap mata itu membawa sebuah pisau tajam yang siap ia tusukkan pada bagian tubuh adik iparnya.
“Mbak, jangan lakukan itu, aku mohon ….” Ucapan Aurora terhenti disaat kakinya tergelincir dan ….
“Aaarrrrggghhh … tolong ….” Wanita itu terpeleset dan seketika tubuhnya terguling dari atas tangga hingga lantai bawah.
Zoya yang melihat itu cukup terkejut, ia yang berniat membunuh Aurora, akan tetapi ia sendiri yang dibuat terkejut ketika melihat wanita itu terjatuh dari atas anak tangga sampai ke lantai bawah.
Aurora tak sadarkan diri, tubuh wanita itu tergeletak di atas lantai rumahnya
***
Seorang gadis berkulit kuning langsat dan berambut panjang, membuka kedua matanya dengan perlahan.
“Rora … akhirnya kamu bangun juga!” ucap seorang gadis yang berdiri di samping brankar yang sedang ditiduri oleh gadis itu.
Gadis tersebut bernama Senja Aurora, ia memiliki tubuh yang langsing serta paras yang cantik dan manis.
“Rora, lo gak kenapa-napa kan? Pingsan lama banget tadi,” ucap seorang gadis lagi berambut sebahu.
Kedua gadis itu bernama Rima dan Zena, mereka adalah sahabat Aurora.
“Ra, kok lo diam aja?” Rima mengguncangkan lengan Aurora, karena sedari tadi gadis itu hanya terdiam sambil memegang keningnya yang sedikit memar.
“Kenapa aku ada disini?” ucapnya dengan wajah bingung.
“Hah? Ra, jangan bilang kalau lo hilang ingatan?” Zena menatap sahabatnya dengan wajah khawatir.
“Aku gak hilang ingatan … aku tahu kamu Rima dan kamu Zena, cuman ….” Aurora menghentikan ucapannya, gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.
“Cuman apa, Ra? Kita lagi ada di UKK, lo tadi pingsan gara-gara kebentur bola yang dilemparkan kating,” jelas Rima yang membuat Aurora malah semakin terlihat bingung.
“UKK? Kating? Maksudnya gimana ya?” Aurora menatap ke arah Rima dan Zena secara bergantian. Wajah gadis itu terlihat semakin bingung.
“Loh, ini gimana sih? Kita kan lagi di kampus, tadi lo pingsan, terus kita bawa ke UKK,” jelas Zena, gadis berambut sebahu itu sedikit ngegas karena ia merasa kesal sekaligus heran kepada sahabatnya.
“Aku gak ngerti … dimana anakku? Suamiku belum pulang ya?” ucap Aurora seraya turun dari atas brankar.
“Anak? Suami?” pekik Rima dan Zena secara bersamaan, kedua gadis itu saling melempar tatapan dengan wajah heran.
Aurora benar-benar terlihat aneh, begitupun dengan Aurora yang merasa kedua sahabatnya itu aneh.
Aurora berjalan dengan cepat keluar dari UKK, ia memperhatikan sekitar, itu memang persis kampusnya tempat dulu ia berkuliah namun, ia merasa dirinya sudah lulus dari sana, bahkan ia sudah menikah dan mempunyai anak, tapi ….
Aurora menghentikan langkah, kepalanya terasa sakit.
“Ra, lo kenapa? Kepala lo masih pusing ya? Kita balik ke UKK lagi yuk, atau mau langsung pulang aja, biar sekalian kita yang ngomong sama dosen,” ucap Rima yang datang bersama dengan Zena.
Aurora masih terdiam, gadis itu mengangkat kepala, ia melihat ke sekeliling, kelas, lapangan, kampus, perpustakaan, kantin, semuanya sama persis dengan kampusnya yang dulu.
Akan tetapi, Aurora merasa ia sudah melewati masa itu.
‘Ini kenapa aku seperti kembali ke masa lalu? Tubuhku … tubuhku jauh lebih langsing daripada aku yang setelah melahirkan. Ini persis tubuhku dulu sebelum aku menikah dan mempunyai anak. Rima dan Zena juga, bukannya badan si Rima gede banget, dia kan gendut setelah melahirkan bayi kembar. Zena juga, bisa-bisanya dia selangsing ini. Bukannya mereka berdua lagi lomba diet biar kurus kayak masa gadis lagi?’ gumam Aurora dalam benaknya.
Ia memperhatikan kedua sahabatnya yang masih memiliki tubuh langsing, berbeda dengan masa yang akan mendatang.
“Ra, lo kenapa sih? Apa kita ke dokter dalam aja, takutnya ada syaraf yang geser,” celetuk Zena ketika melihat Aurora memperhatikannya dan juga Rima seperti aneh.
“Iya nih, aneh banget lo, Ra. Ayo kita ke dokter aja!” Rima memegang tangan Aurora, mereka akan membawa sahabatnya ke rumah sakit.
“Gak! Aku gak sakit, aku gak kenapa-napa kok.” Aurora melepaskan tangan Zena dan Rima yang sedang memegang lengannya.
“Tapi lo aneh banget, Ra. Kita takut lo gegar otak,” ucap Rima dengan wajah khawatir sambil menatap Aurora.
“Gue gak papa kok, gue baik-baik aja.” Aurora menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
Ia harus terlihat baik-baik saja agar kedua sahabatnya itu tidak membawa ia ke rumah sakit.
Aurora masih kerasa trauma dengan rumah sakit dan juga dokter, karena ia teringat ketika melahirkan dan k*********a dijahit.
Dari situ ia jadi takut masuk rumah sakit.
“Tapi lo aneh, Ra.” Zena dan Rima masih menatap heran ke arah Aurora.
“Gue gak papa, gue cuma haus aja. Ayok ke kantin!” Aurora berjalan terlebih dahulu, ia berjalan ke arah sebelah kanan.
“Ra, mau kemana?” teriak Rima yang seketika menghentikan langkah Aurora.
“Gue mau ke kantin,” jawabnya dengan wajah serius.
“Kantin di sebelah sana, ngapain lo ke sana? Itu arah ke toilet.” Rima menarik tangan Aurora dan mengajak sahabatnya untuk berjalan ke sebelah kiri.
“Loh, kantinnya udah pindah?” tanya Aurora dengan wajah bingung.
“Pindah dari mana? Kantin tetap ada di sana dari zaman Belanda kali,” oceh Zena.
Aurora kembali terdiam, ia berusaha mengingat, karena sepertinya mereka sudah cukup lama lulus dari sana.
“Loh, kok pohon itu masih kecil? Bukannya pas kita reuni ke kampus, pohon mangga itu udah berbuah ya?” celetuk Aurora sambil menunjuk ke arah pohon kecil yang berada di halaman kampus.
“Reuni apaan sih, Ra? Orang kita lulus aja belum, pohon itu baru ditanam beberapa bulan yang lalu, mana mungkin langsung berbuah. Ngadi-ngadi banget sih lo,” protes Rima seraya mengikuti arah sorot mata Aurora yang tertuju pada pohon mangga itu.
“Iya nih, setelah pingsan dua jam, lo jadi eror begini, Ra,” timpal Zena.
Rima berjalan di samping kiri Aurora, sementara Zena di samping kanan Aurora.
Namun, tiba-tiba saja Aurora menghentikan langkahnya yang membuat Rima dan Zena juga terpaksa menghentikan langkah.
Aurora menatap ke arah seorang pemuda bertubuh tinggi dan berwajah tampan, pemuda itu berdiri tepat di hadapannya.
Bahkan, kini pemuda itu berjalan ke arahnya dengan sorot mata yang menatapnya dengan tatapan dingin.
Aurora terdiam, ia membalas tatapan pemuda itu dengan bibir tersenyum.
Karena ia tahu betul siapa pemuda yang kini sedang berjalan mendekat ke arahnya.
“Mas Ga ….”
“Hai! Lo udah siuman? Sorry ya tadi gara-gara gue lo jadi pingsan. Gue gak sengaja lempar bola ke arah lo. Lagian, salah lo juga, udah tahu ada orang lagi main basket, malah lewat aja,” ucap pemuda itu dengan nada bicara yang terdengar angkuh.
Aurora yang semula akan berbicara, ia langsung menghentikan ucapannya, mulut gadis itu masih terbuka, ia menganga ketika mendengar ucapan pemuda di hadapannya.
“Ra, kok lo diam aja? Itu Kak Gama ngomong sama lo,” bisik Zena.
“Kak Gama? Bukannya dia ini ….” Aurora menunjuk ke arah Gama yang seketika mengerutkan keningnya.
“Kenapa lo nunjuk gue kayak gini?” ucap pemuda yang bernama Gama itu dengan wajah yang terlihat kesal.
“Kok kamu kasar banget sama aku?” ucap Aurora yang masih menatap wajah Gama.
“Lo sendiri nunjuk gue kayak gitu? Gak sopan banget sama kakak tingkat,” jawab Gama yang membuat kedua mata Aurora langsung terbuka lebar.
“Kakak tingkat? Bukannya kamu suamiku?” celetuk Aurora yang membuat semua orang seketika menatap ke arahnya, termasuk beberapa mahasiswa yang berada di sana dan tak sengaja mendengar ucapan Aurora barusan.