"Berani-beraninya lo cium pipi sama bibir gue! Lo udah merampas kesucian bibir gue," ucap Gama sambil mengusap pipi dan bibirnya bekas ciuman Aurora barusan.
Ia masih bisa merasakan bagaimana ketika bibir kenyal wanita itu menempel pada pipi dan bibirnya.
"Emang pipi sama bibir kamu masih suci?" Aurora terkekeh.
"Iya lah, emang lo kira gue cowok apaan? Sekarang pipi sama bibir gue udah ternodai sama lo," balas Gama lagi yang justru malah membuat Aurora tertawa sambil menatap pria itu.
"Baguslah, berarti aku yang pertama buat kamu. Tapi, aku bukan cuma yang pertama buat kamu, aku juga akan menjadi yang terakhir buat kamu. Aku akan menjadi satu-satunya wanita yang bisa menyentuhmu, aku pastikan tidak akan ada wanita lain yang bisa bersentuhan secara intens denganmu selain aku sendiri," tutur Aurora dengan nada bicara yang terdengar lembut akan tetapi penuh penekanan seolah hal itu benar-benar akan terjadi.
"Obses banget lo sama gue." Gama menatap heran ke arah wanita itu.
"Karena kamu adalah suami di masa depanku." Aurora mengembangkan senyum manis sambil menatap Arnold.
"Makin gila! Siap-siap sekarang, sebentar lagi kita berangkat!" Gama bangkit dari duduknya, pria itu segera meninggalkan ruang makan, ia akan pergi ke kamar untuk mengambil kunci motornya.
Aurora masih tersenyum merekah, ia memperhatikan punggung tegap Gama yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.
"Mas Gama ... Mas Gama." Aurora merasa gemas sendiri atas tingkah Gama yang sok jual mahal, padahal di masa depan ia tahu betul betapa bucinnya pria itu padanya.
"Sekarang, aku harus memikirkan gimana caranya biar aku bisa tetap berada di rumah aku. Aku harus menjaga Mas Gama dari Arnold dan Bu Puspa yang mempunyai rencana jahat. Aku tidak akan membiarkan Mas Gama terluka. Walaupun kejadian pembunuhan itu masih beberapa tahun lagi, tapi bisa saja mereka mencelakai Mas Gama untuk menyingkirkan Mas Gama agar tidak menghalangi mereka untuk menguasai semua harta Pak Danuarta," gumam Aurora dengan suara yang sangat pelan dan hanya terdengar oleh dirinya sendiri, ia tahu di sana tidak ada orang dan tentu saja tidak akan ada satu orangpun yang mendengar ucapannya barusan.
Aurora segera meninggalkan ruang makan, ia akan bersiap karena sebentar lagi akan pergi bersama dengan Gama.
Aurora tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, ia harus memanfaatkan waktu untuk berduaan dengan pria itu sebagai pengobat rasa rindunya.
Walaupun Gama tidak akan ingat kejadian di masa depan, tapi setidaknya ia bisa menghabiskan banyak waktu bersama dengan pria itu.
Aurora juga berusaha membuat Gama tertarik padanya, agar pria itu lepas dari Kimberly.
***
Di kamarnya, Gama sudah bersiap untuk keluar dan membawa Aurora ke rumah sakit. Akan tetapi ia sedang dibuat repot oleh Kimberly yang mendadak menghubunginya dan meminta diantar berbelanja ke mall serta nonton bioskop berdua.
"Sayang, maaf ya, aku gak bisa, aku disuruh Papa ...." Gama tak melanjutkan ucapannya, jika Kimberly tahu kalau ia akan pergi bersama dengan Aurora, pasti gadis itu akan marah padanya, meskipun ia hanya akan mengantarkan Aurora ke rumah sakit, bukan pergi untuk jalan-jalan.
"Disuruh apa? Ini kan weekend, masa kamu disuruh-suruh sih?" Kimberly menatap intens ke arah wajah Gama yang muncul pada layar ponselnya.
"Aku di suruh ke rumah temannya Papa, iya karena di sana sedang ada acara ...." Gama kembali menghentikan ucapannya, ia sedang mencari alasan yang tepat.
"Acara apa? Aku ikut dong, biar sekalian dikenakan sebagai calon istrimu," ucap Kimberly yang membuat kepala Gama semakin terasa pusing.
"Emmm ... Acara pemakaman temannya Papa, iya temannya Papa baru meninggal semalam dan akan dikuburkan sekarang. Jadi, aku sama Papa mau ke sana," jawab Gama setelah berpikir sejenak, ia mencari alasan yang tepat.
Ia tahu Kimberly sangat takut pada orang yang meninggal, jadi dengan begitu Kimberly tidak akan meminta untuk ikut bersamanya lagi.
"What? Orang meninggal? Kamu gak bohong kan?" Sepertinya Kimberly merasa curiga, karena dari nada bicara dan gelagat Gama seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Aku beneran, Sayang. Mana mungkin aku bohong sama kamu. Ya udah, aku berangkat dulu ya!" Gama segera mematikan panggilan video itu sebelum Kimberly kembali mengintrogasinya.
Gama memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil membuang nafas kasar.
Setelah itu, ia segera keluar dari kamar dan berjalan dengan cepat menuruni anak tangga.
Akan tetapi, di lantai bawah ia melihat Aurora sedang mengobrol dengan Arnold.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, akan tetapi mendadak Gama merasa tak nyaman ketika melihat Aurora dan Arnold terlihat akrab seperti itu.
"Senja, aku berangkat dulu ya, kamu hati-hati. Nanti jangan lupa kabari aku," ucap Arnold berpamitan. Karena pria itu harus segera mengikuti pak Danuarta dan bu Puspa yang sudah keluar dari rumah dan siap berangkat ke tempat yang telah mereka rencanakan sebelumnya.
"Iya, Kak, hati-hati!" Aurora melambaikan tangannya mengiringi langkah Arnold yang semakin menjauh.
"Ekhemmmm ...." Tiba-tiba saja Gama berdehem sambil melanjutkan langkah melewati anak tangga yang tinggal beberapa biji lagi akan tiba di lantai bawah.
Aurora menoleh ke arah pria itu, akan tetapi ia tak mengucapkan sepatah katapun kepada Gama, ia berpura-pura cuek agar pria itu berpikir negatif kepada ia dan Arnold.
Aurora ingin mengetes seberapa kepedulian Gama padanya.
"Akrab banget sama Kak Arnold, abis ngapain aja?" tanya Gama yang mendahului pembicaraan, karena Aurora memang sengaja mendiamkan agar pria itu berbicara terlebih dahulu padanya.
"Tukeran nomor telepon, karena Kak Arnold meminta aku untuk mengabarinya," jawab Aurora jujur.
"Oh," balas Gama singkat, setelah itu ia berjalan ke arah pintu keluar.
Aurora tersenyum ketika mendengar balasan pria itu.
Dengan berbicara singkat seperti tadi, Aurora semakin yakin kalau Gama sedang merasa tak nyaman atas kedekatannya dengan Arnold, apalagi ketika mendengar ia telah saling tukar nomor telepon dengan pria itu.
Aurora segera mengikuti langkah Gama yang kini sudah keluar dari rumah.
"Cepat naik! Gue malas bawa mobil, jadi naik motor aja!" ucap pria itu yang kini telah berada di atas motornya.
Ia meminta agar Aurora segera naik ke atas motor gedenya itu.
Aurora menyembunyikan senyumnya ketika mendekat ke arah Gama, ia masih memasang wajah cuek agar pria itu semakin merasa penasaran padanya.
"Jangan lupa pakai helm, tar ditilang polisi brabe." Gama menyerahkan sebuah helm pada Aurora.
Wanita itu segera memakainya.
"Bau si Kimberly," ucap Aurora pelan seraya memakai helm tersebut.
"Apa lo bujang?" sergah Gama yang ternyata mendengar ucapan Aurora barusan.
Seketika wanita itu terkejut dan melihat ke arah Gama yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Nggak, bukan apa-apa, ayo kita berangkat!" Aurora segera naik ke atas motor Gama sambil berpegangan pada bahu pria itu.
Gama menoleh ke belakang, ia melihat ke arah Aurora yang kini telah duduk di belakangnya.
Namun, siapa sangka tiba-tiba Aurora memiringkan kepalanya sampai membuat helm yang mereka kenakan beradu.
Wanita itu tersenyum manis sambil menyipitkan matanya yang terlihat lucu.
Akan tetapi, Gama bukan fokus pada mata wanita itu, sorot kedua matanya malah tertuju pada bibir Aurora yang entah kenapa malah terlihat menggoda.
Gama jadi teringat kejadian tadi pagi, ketika bibir seksi itu menempel pada pipi dan juga kedua bibirnya.
Gama segera mengarahkan pandangannya ke tempat lain, ia menatap lurus ke depan dan memalingkan wajahnya dari Aurora, jangan sampai wanita merasa kepedean gara-gara ia tatap seperti itu.
Gama segera menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.
Aurora yang merasa belum siap, langsung terkejut, ia hampir saja terjatuh jika tidak segera memeluk tubuh Gama.
Wanita itu melingkarkan kedua tangannya pada perut Gama dan memeluk tubuh kekar pria itu dengan erat.
"Ngapain peluk-peluk? Modus lo ya?" tuding Gama sambil melihat ke arah tangan Aurora yang kini sedang meninggal pada perutnya.
"Kamu yang modus, sengaja kan langsung rem kenceng biar aku peluk?" Aurora menunduh balik.
"Enak aja, salah lo sendiri bengong terus. Udah, lepasin!" titah Gama.
"Gak mau, ini udah terlanjur lengket," balas Aurora yang malah menyandarkan kepalanya pada punggung tegap Gama.
"Apanya yang nempel?" tanya pria itu sambil melihat ke arah kaca spion yang memantulkan bayangan Aurora.
"Hatinya," jawab wanita itu yang sama sekali tak melepaskan pelukannya dari tubuh Gama.
Akhirnya apa yang ia inginkan terlaksana juga, tentu saja Aurora tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
Gama terdiam, pria itu tak lagi meminta Aurora untuk melepaskan pelukannya.
'Aku tahu tadi kamu cuma basa-basi kan, Mas, meminta aku untuk melepaskan pelukan ini. Padahal aslinya kamu merasa nyaman dipeluk seperti ini sama aku,' gumam Aurora dalam benaknya.
Ia masih memeluk erat tubuh pria itu dan menyandarkan kepala pada punggung tegap Gama.
Aurora mencium dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang membawa ingatannya pada masa depan, bagaimana ketika mereka menghabiskan waktu untuk bermesraan.
Sementara Gama memperhatikan Aurora dari pantulan kaca spion motornya. Ia melihat wanita itu sangat nyaman ketika berada di balik punggungnya
Bukan hanya Aurora saja yang merasa nyaman, akan tetapi lambat lain Gama juga mulai merasakan kenyamanan.
Ia tidak pernah merasa senyaman dan setenang ini ketika dipeluk oleh seorang perempuan.
Bahkan, ia tak menemukan kenyamanan ini dari Kimberly.
Disaat keduanya sedang bermain dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil beberapa kali yang berada di belakang motor Gama.
Seketika pria itu menoleh ke arah mobil berwarna merah terang tersebut, betapa terkejutnya ia setelah menyadari siapa pemilik dari mobil itu.
Sepertinya mobil itu sudah mengejarnya sedari tadi dan kini roda empat tersebut memepet motor Gama pada pinggir jalan agar ia menghentikan motornya.
Semakin lama mobil itu semakin mendekat dan hampir menyenggol motor Gama.