Pria Di Masa Depan

1112 Kata
“Gak papa, lain kali hati-hati ya kalau jalan,” ucap pria itu yang diiringi dengan senyuman. Namun, perlahan Aurora memundurkan langkahnya setelah ia mengingat siapa pria di hadapannya tersebut. “Kenapa mundur? Hati-hati di belakang kamu ada lobang ….” Baru saja pria itu selesai berbicara dan …. “Arrgghhhh ….” Aurora berteriak ketika kakinya terpeleset dan masuk ke dalam lobang kecil yang berada di samping jalan. Gadis itu terjatuh di atas paving blok. “Kan aku sudah bilang hati-hati, tapi tidak apa-apa, kamu juga pasti gak lihat lobang itu. Ayo sini aku bantu!” Pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu mengulurkan tangannya ke arah Aurora yang sedang duduk di atas paving blok. Namun, bukannya langsung menerima uluran tangan pemuda di hadapannya, Aurora malah terdiam dengan kedua mata yang menatap ketakutan ke arah pria itu. “Kenapa diam saja? Ayo aku bantu, apa ada yang sakit? Kakimu keseleo lah?” Pria itu itu ikut berjongkok di hadapan Aurora. “Boleh aku periksa kakimu?” tanyanya kembali dengan suara yang terdengar lembut. “Emmm … nggak, aku gak papa kok.” Aurora segera berdiri, meskipun kakinya terasa sakit, akan tetapi ia berusaha menahannya. “Kamu kenapa takut kayak gitu? Nama kamu Aurora kan?” Pria itu ikut berdiri, ia menatap Aurora dengan bibir tersenyum. “Darimana kamu tahu namaku?” Aurora terlihat panik. “Ya jelas tahu lah, kita kan satu kampus, cuma beda angkatan saja, kita juga satu fakultas. Aku pernah melihat kamu ikut olimpiade dan waktu itu kamu menjadi juara. Hmmm … kamu hebat banget,” puji pria itu yang membuat Aurora kembali terdiam. Ia harus menyinkronkan ingatannya dengan masa sekarang dan juga masa lalu sebelum sekarang, serta masa depan. Kepala Aurora terasa sakit, sepertinya memory di kepalanya sedang berpindah-pindah posisi untuk mengatur ingatan. “Emmm … btw, kalau kamu belum kenal aku, kenalin namaku Arnold, aku kakak tingkat kamu.” Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Aurora. Seketika detak jantung Aurora berdebar kencang, telapak tangannya terasa dingin, bahkan jemari tangannya ikut gemetar. “Are you okay?” Pria itu menatap intens ke arah Aurora, karena uluran tangannya belum dibalas oleh gadis itu. “A-aku baik-baik saja, namaku Senja Aurora, biasa dipanggil Aurora.” Gadis itu memberanikan diri menerima uluran tangan dari Arnold, meskipun jemari tangannya terasa gemetar. “Tapi sepertinya aku lebih senang jika memanggilmu Senja.” Kedua bibir Arnold tersenyum tipis. “I-iya terserah, itu panggilan dari nenekku.” Aurora akan menarik kembali tangannya yang saat ini sedang digenggam oleh Arnold. “Baiklah, Senja. Aku merasa telapak tanganmu sangat dingin, apa kamu sakit?” Arnold mengarahkan sorot matanya pada tangan Aurora yang sedang ia genggam. “I-iya, aku agak kurang enak badan, kebetulan aku tadi udah pingsan dua jam.” Aurora berhasil menarik tangannya dari Arnold. “Oh, i see … kamu kan gadis yang kena lemparan bola dari Gama? Tadi sempat heboh juga ada mahasiswi yang pingsan akibat terkena lemparan bola dari Gama. Btw, maafin Gama ya, dia adikku,” ucap Arnold dengan bibir yang kembali tersenyum. Namun, justru hal itu malah membuat Aurora semakin gemetar. Terlebih lagi ketika ia mendengar kalau Gama adalah adiknya. “Nggak papa, aku permisi dulu.” Aurora memilih untuk pergi meninggalkan Arnold, ia berjalan lurus ke depan dan akan melewati pria itu. “Hey, kamu mau kemana? Itu bukan arah jalan pulang. Itu arah ke labolatorium. Arah ke parkiran sebelah sana!” ucap Arnold yang seketika menghentikan langkah Aurora. Ia merasa takut sekaligus malu pada pria itu. Aurora membalikkan badannya dengan perlahan, akan tetapi ia menundukkan kepala. Gadis itu tak berani menoleh ke arah Arnold yang sedang menatapnya dengan bibir tersenyum. Aurora melewati Arnold dengan langkah pelan. “Sepertinya keadaan kamu sedang tidak baik-baik saja, Senja. Jika berkenan, aku akan mengantarkan kamu pulang,” ucap Arnold secara tiba-tiba. Aurora yang mendengar itu, seketika merasa merinding. “Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,” tolak Aurora, setelah itu ia segera mempercepat langkahnya agar bisa semakin menjauh dari Arnold. Gadis itu setengah berlari ke arah parkiran, banyak mahasiswa yang berjalan ke tempat itu, sepertinya jam kampus sudah selesai. Setelah tiba di parkiran, Aurora menghentikan langkah, ia berdiri dengan wajah bingung. Ia lupa dirinya membawa kendaraan apa. Di sana banyak motor dan mobil yang terparkir. “Aku ke kampus bawa apa ya? Kok aku lupa? Aku bawa mobil atau motor?” Gadis itu menggaruk kepalanya sendiri. “Perasaan ketika masih kuliah, aku belum punya mobil deh. Apa aku bawa motor ya? Tapi motorku yang mana?” Aurora bingung sendiri. Gadis itu memperhatikan sepeda motor yang terparkir di sana. Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi mengendarai motornya masing-masing dan keluar dari kampus. Aurora masih terdiam di tempat yang sama, ia akan menunggu semua orang pulang dan membawa motornya masing-masing. Motor yang tersisa di sana, berarti itu motornya. Ia juga membuka tasnya dan berusaha mencari kunci motor yang entah dimana ia simpan. Ingatan Aurora cukup terbatas untuk hal-hal kecil seperti itu, oleh karenanya ia harus mengingat-ingat dengan perlahan. Disaat ia sedang sibuk mencari kunci motor, tiba-tiba saja Aurora mendengar …. “Kamu anterin aku pulang ya, hari ini aku sengaja gak bawa mobil, biar aku bisa pulang bareng sama kamu,” ucap seorang gadis yang membuat Aurora langsung mengangkat kepala dan melihat ke arah Kimberly yang sedang berjalan sambil menggandeng tangan Gama. Seketika darah Aurora terasa mendidih, ia merasa tak rela ketika melihat Kimberly menggandeng tangan Gama seperti itu. Karena Aurora merasa kalau Gama adalah suaminya. Aurora segera menutup resleting tasnya, ia menghentakkan kaki dan berjalan dengan cepat ke arah Kimberly dan Gama. Sorot matanya terlihat menajam, kedua tangan Aurora mengepal sempurna, jemari tangannya sudah gatal ingin segera menjambak rambut pirang Kimberly. Ia benar-benar merasa marah ketika melihat Kimberly dan Gama. Meskipun di masa saat ini Gama belum menjadi suaminya. Aurora mendekat dengan amarah yang semakin meluap, gadis itu tiba-tiba saja mencegat langkah Kimberly dan Gama. Aurora berdiri tepat di hadapan kedua orang itu sambil merentangkan kedua tangannya. “Jangan pegang-pegang Mas Gama! Mas Gama ini suamiku!” Dengan berani Aurora mengatakan itu sambil melepaskan gandengan tangan Gama dari Aurora. Ia juga menghempaskan tangan Kimberly secara kasar yang membuat gadis itu langsung meringis. “Apaan sih lo? Gama ini pacar gue!” Kimberly merasa tak terima diperlakukan seperti itu oleh Aurora. Ia menatap tajam ke arah gadis di hadapannya. “Gak peduli, tapi Mas Gama ini suamiku!” balas Aurora dengan lantang. Ia tak dapat menahan rasa cemburu ketika melihat Gama dan Kimberly, meskipun ia tahu saat ini Gama belum menjadi suaminya. “Gama, ini cewek kenapa sih? Kok dia ngaku-ngaku kalau kamu suaminya dia?” Kimberly menatap ke arah Gama. “Gak tahu, mungkin dia mahasiswi stres di sini,” jawab Gama dengan enteng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN