bc

Menikahi Calon Mertuaku

book_age18+
108
IKUTI
1.0K
BACA
billionaire
HE
age gap
playboy
heir/heiress
drama
bxg
brilliant
campus
city
like
intro-logo
Uraian

Impian Kirana hancur saat Dewa, tunangannya, kabur bersama wanita lain tepat sebelum acara pernikahan dimulai. Di tengah skandal besar tersebut, Arka Pradipta ayah kandung Dewa sekaligus CEO dingin dan berkuasa mengambil keputusan mengejutkan: menggantikan posisi putranya dan menikahi Kirana saat itu juga.Terjebak dalam pernikahan mendadak dengan pria yang seharusnya menjadi mertuanya, Kirana harus beradaptasi dengan status barunya. Situasi kian rumit saat Dewa kembali dengan penyesalan, hanya untuk mendapati mantan kekasihnya kini telah menjadi ibu sambungnya sendiri. Mampukah Kirana bertahan di tengah intrik keluarga kaya dan pesona Arka yang perlahan mencuri hatinya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Pengantin Yang Ditukar dan mahkota Kaca
Lampu chandelier kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Grand Ballroom Hotel The St. Regis Jakarta memancarkan kilau kemewahan yang tak tertandingi. Ribuan butir kristal membiaskan cahaya keemasan, menimpa dekorasi ribuan tangkai mawar putih dan mawar pastel impor yang menghiasi setiap sudut ruangan. Musik klasik lembut dari paduan string quartet terkenal mengalun merdu, mengisi udara yang dipenuhi harum parfum berkelas milik ratusan tamu elit Jakarta. Bagi siapa pun yang melangkah masuk, malam itu adalah wujud nyata dari pernikahan impian. Sebuah penyatuan dua keluarga konglomerat, perayaan kemegahan, dan simbol kesempurnaan cinta. Namun bagi Kirana, ruangan serba megah itu mendadak berubah menjadi arena eksekusi yang amat dingin dan mencekam. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menghantam tulang rusuknya. Tangan Kirana gemetar hebat di balik buket bunga baby's breath dan mawar putih yang digenggamnya amat erat begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Gaun pengantin rancangan desainer ternama Italia yang membalut tubuh jenjangnya terasa amat berat dan sesak, seolah pita renda dan korset yang memeluk pinggangnya meremas dadanya tanpa ampun, membuatnya kian sulit untuk sekadar menarik napas panjang. Tinggal sepuluh menit lagi menuju akad nikah. Jam dinding berlapis emas di ruang tunggu mempelai bergerak tanpa kompromi, seakan-akan menjadi detik-detik penghitungan mundur menuju malapetaka. "Kirana... Dewa tidak ada di kamar rias." Suara bisikan dari balik punggungnya terdengar bagai sambaran petir mendadak di tengah hari bolong. Kirana membeku. Ia menoleh perlahan, gerakan lehernya terasa kaku bagai manekin kayu. Di belakangnya, sang ibu, Rahmi, berdiri dengan wajah pucat pasi. Bibir ibunya berguncang, dan kedua matanya terbelalak dipenuhi ketakutan yang luar biasa. "Maksud Ibu apa?" bisik Kirana, suaranya nyaris tercekat dan tak mampu keluar dari tenggorokan. "Acara akad tinggal hitungan menit, Bu. Penghulu sudah duduk di meja akad. Para wartawan dari media nasional sudah memenuhi area foyer. Dewa pasti cuma ke toilet sebentar, kan?" Kirana mencoba tertawa kecil, menganggap ucapan ibunya hanyalah gurauan konyol akibat kepanikan pra-pernikahan. Namun, tawa rapuh itu langsung runtuh saat sahabat karibnya, Siska, berlari kecil menghampiri mereka dari koridor belakang. Napas Siska terengah-engah, wajahnya mencerminkan kepanikan yang sama besarnya, dan ponsel di tangannya tergenggam erat. "Kirana... ini... kamu harus lihat ini," ucap Siska dengan suara bergetar. Ia menyodorkan layar ponselnya ke depan mata Kirana. Layar digital itu menampilkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh nomor Dewa pria yang telah menjalin kasih dengannya selama empat tahun terakhir, pria yang beberapa jam lalu berjanji akan membahagiakannya seumur hidup. Pesan itu begitu singkat, namun cukup untuk memusnahkan seluruh masa depan Kirana dalam sekedip mata. "Maafkan aku, Kirana. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku menyadari satu hal sebelum terlambat... aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Aku mencintai Maya. Kami sedang dalam perjalanan menuju bandara sekarang. Jangan cari aku." Maya. Nama itu bergema berulang kali di dalam kepala Kirana seperti gaung yang menyiksa. Maya adalah sahabat dekatnya sejak masa kuliah. Perempuan yang selama enam bulan terakhir selalu duduk bersama Kirana, mendengarkan semua keluh kesah dan antusiasme Kirana dalam mempersiapkan pernikahan ini. Maya yang membantu memilih warna gaun ini. Maya yang berpura-pura menangis haru saat Kirana fitting baju pengantin. Dunia di bawah pijakan Kirana seolah runtuh seketika. Tubuhnya limbung. Jika bukan karena Siska dan ibunya yang menahan kedua lengannya, Kirana dipastikan sudah jatuh pingsan di atas lantai marmer yang dingin. Air mata menetes deras tanpa sanggup dibendung, membasahi pipinya dan merusak riasan wajah yang telah ditata sempurna selama berjam-jam. "Dia kabur... bersama Maya?" gumam Kirana rapuh. Pengkhianatan berlapis ini menikam dadanya begitu dalam, hingga rasa sakitnya berubah menjadi rasa sesak yang tak tertahankan. Di luar ruang tunggu, bisik-bisik kasak-kusuk mulai menjalar di antara para tamu undangan. Penghulu beberapa kali melihat jam tangannya dengan raut bingung. Pihak keluarga besar Pradipta mulai menunjukkan kegelisahan. Lampu kilat dari kamera para wartawan bisnis dan gaya hidup mulai menyala terang, menangkap momen ketika keluarga pengantin wanita berbisik panik. Skandal besar keluarga konglomerat Pradipta dan kehancuran nama baik keluarga Kirana tinggal menunggu hitungan menit sebelum menjadi berita utama di seluruh negeri. "Ke mana anak bodoh itu?!" Suara geraman berat dan berwibawa memecah ketegangan di area keluarga pria. Dari barisan terdepan tamu VIP, seorang pria paruh baya berdiri. Postur tubuhnya yang tegap, tinggi, dan sempurna dibalut setelan jas hitam bespoke buatan penjahit ternama Italia. Wajahnya diukir oleh garis-garis ketegasan yang matang rahang yang keras terpahat sempurna, alis tebal, serta sepasang mata tajam berwarna hazel yang mampu membuat siapa pun menunduk segan hanya dengan sekali tatap. Arka Pradipta. Pendiri sekaligus CEO Pradipta Group, salah satu konglomerasi bisnis terbesar di Asia Tenggara. Di usianya yang menginjak 38 tahun, Arka tidak hanya dikenal sebagai salah satu pria paling berpengaruh di dunia bisnis, tetapi juga pria dengan aura dingin, disiplin tanpa toleransi, dan d******i yang mutlak. Pria yang membesarkan Dewa sendirian sejak istrinya meninggal belasan tahun lalu. Sekretaris pribadi Arka, Hendra, melangkah maju dengan wajah pucat dan menyerahkan sebuah tablet yang berisi laporan keberadaan GPS kendaraan Dewa. "Pak Arka... Tuan Muda Dewa baru saja terdeteksi masuk ke area Tol Bandara Soekarno-Hatta bersama Nona Maya." Pandangan mata Arka menyempit, menyembunyikan amarah membakar yang berada di balik ketenangannya yang menakutkan. Ia menatap ke arah panggung utama, di mana Kirana berdiri dengan gaun putihnya yang terurai, dikelilingi kepanikan dan air mata. Pria itu melihat betapa hancur dan rapuhnya perempuan muda yang beberapa menit lagi seharusnya resmi menjadi menantunya. Nama baik Pradipta Group tidak boleh hancur karena ulah impulsif putranya yang tidak bertanggung jawab. Dan yang lebih utama, Arka tidak akan membiarkan seorang gadis polos dihancurkan begitu saja di hadapan ratusan pasang mata yang haus akan drama orang kaya. Dengan langkah mantap yang bergema di atas lantai marmer, Arka melangkah maju. Langkah kakinya begitu tenang namun sarat akan kekuasaan yang tak terbantahkan, seketika membungkam riuh kasak-kusuk yang mulai memenuhi ballroom. Seluruh pandangan mata terpaku padanya. Tamu-tamu VIP, kolega bisnis, keluarga besar, hingga para awak media mendadak menahan napas. Aura mengintimidasi yang dipancarkan Arka seolah menyerap seluruh oksigen di ruangan itu. Arka terus berjalan hingga ia berhenti tepat di hadapan Kirana. Tinggi tubuhnya yang menjulang membuat Kirana yang sedang menunduk terpaksa mendongak pelan. Kirana menatap pria itu pria yang selama ini ia panggil dengan sebutan 'Calon Papa Mertua' dengan mata yang sembap dan tatapan tak percaya. Arka menatap Kirana sejenak. Pandangannya yang tajam sedikit melembut saat melihat ketakutan dan luka mendalam di mata jernih gadis itu. Kemudian, Arka membalikkan badannya, menghadapi penghulu, keluarga besar, dan seluruh tamu undangan. Ia melepaskan sarung tangan putih di tangan kanannya dengan gerakan sangat anggun, lalu merapikan lipatan jasnya. "Pernikahan ini tidak akan dibatalkan," suara bass Arka menggema tenang, namun setiap kata yang diucapkannya membawa bobot perintah mutlak yang tak bisa dibantah oleh siapa pun di ruangan itu. Semua orang terperanjat. Ibunda Kirana menahan napas, Siska membelalakkan mata, sementara para tetua keluarga Pradipta mulai saling pandang dengan raut syok. "Arka! Apa maksudmu?!" bisik salah satu pamannya dengan nada tertahan. Arka memutar tubuhnya kembali menghadap Kirana. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi kayu sandalwood dan black pepper khas dari parfumnya menguar kuat memenuhi indra penciuman Kirana. Arka mengulurkan tangan kanannya yang kekar ke udara, tepat di depan Kirana. "Dewa telah membuktikan dirinya tidak cukup dewasa untuk memikul tanggung jawab ini," kata Arka, matanya terkunci rapat pada manik mata Kirana. "Dan saya tidak akan membiarkan kehormatan keluarga ini maupun kehormatanmu diinjak-injak malam ini." Kirana bergeming, napasnya tertahan. "P-Pak Arka..." bisiknya lirih, bibirnya bergetar. "Saya yang akan menggantikan Dewa," ucap Arka dingin, tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Saya yang akan menikahi Kirana malam ini." Ruangan ballroom seketika riuh rendah. Kilatan cahaya dari kamera wartawan meledak seperti kembang api, menangkap momen kegilaan paling tak terduga dalam sejarah masyarakat kelas atas ibu kota. Seorang CEO berusia 38 tahun, taipan bisnis terkemuka, mengumumkan secara terbuka akan menikahi calon menantunya sendiri di depan ratusan saksi. "Pak Arka... Anda tidak bisa melakukan ini," bisik Kirana dengan telinga berdenging. Pikiran gadis itu benar-benar kacau. "Ini... ini gila. Anda adalah ayah Dewa!" Arka sedikit menundukkan kepalanya, mengikis jarak hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Kirana. Suara bisikannya begitu rendah, berwibawa, namun memberikan rasa aman yang aneh di tengah badai kepanikan Kirana. "Dengarkan saya baik-baik, Kirana," bisik Arka, suaranya mengandung hipnotis yang membuat Kirana terdiam. "Jika kamu berjalan keluar dari pintu itu sekarang sebagai pengantin yang ditinggalkan, media akan membantaimu. Keluargamu akan menanggung malu seumur hidup, dan bisnismu akan hancur sebelum berkembang. Tapi jika kamu menggenggam tangan saya sekarang... kamu akan keluar dari ruangan ini sebagai Nyonya Arka Pradipta. Tidak ada satu orang pun di kota ini yang berani merendahkanmu lagi. Termasuk Dewa." Kirana menatap mata Arka. Di dalam manik mata hazel yang dingin itu, ia tidak melihat kepura-puraan atau rasa kasihan yang murah. Yang ada hanyalah janji perlindungan yang kokoh bagai benteng baja. Kirana menoleh ke arah ibunya yang menangis terisak sambil memegangi dadanya. Ia menoleh ke arah kerumunan wartawan yang siap melahap kehancurannya. Lalu, ia kembali menatap tangan Arka yang terulur teguh di hadapannya. Rasa sakit akibat pengkhianatan Dewa masih memotong ulu hatinya, namun kemarahan dan tekad untuk bertahan hidup mendadak menyala di balik dadanya. Kirana perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, meremas buket bunganya, lalu meletakkan jemari kecilnya di atas telapak tangan Arka yang hangat dan kokoh. Arka menggenggam tangan Kirana dengan erat sebuah genggaman yang protektif dan mendominasi. "Penghulu," panggil Arka dengan nada tenang sambil menatap pria paruh baya yang masih terpaku di meja akad. "Silakan mulai acaranya." Suasana yang tadinya kacau mendadak menghening secara ajaib saat Arka duduk di kursi mempelai pria. Kirana duduk di sampingnya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Seluruh prosesi berlangsung bagaikan mimpi di siang bolong. Saat Arka mengucapkan kalimat ijab kabul dengan suara yang begitu lantang, mantap, dan tanpa sedikit pun ragu, seluruh ballroom bergetar: "Saya terima nikahnya dan kawinnya Kirana Larasati binti Hendrawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." "Sah!" Seruan kata 'sah' dari para saksi menggema. Kirana memejamkan matanya rapat-rapat saat air mata hangat kembali menetes di pipinya. Namun kali ini, itu bukan sekadar air mata duka, melainkan penanda bahwa hidupnya telah berubah selamanya. Dalam hitungan menit, ia bukan lagi tunangan Dewa yang terbuang. Ia telah resmi menjadi istri dari Arka Pradipta ibu sambung dari mantan kekasihnya sendiri, dan wanita paling berkuasa di dalam mahligai keluarga Pradipta. Saat Arka membalikkan badan dan memakaikan cincin pernikahan emas putih berhiaskan berlian murni ke jari manis Kirana, Arka menunduk dan mengecup dahi Kirana dengan lembut namun tegas di hadapan semua orang. Sentuhan bibir Arka di kulit dahinya membuat seluruh tubuh Kirana merinding hebat. "Selamat datang di hidupku, Kirana," bisik Arka tenang di dekat telinganya. "Mulai malam ini... tidak ada satu orang pun yang boleh menyakitimu."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tentang Cinta Kita

read
230.3K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.7K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
170.6K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.4K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook