Dering panggilan masuk mengusik tidur lelap Arsa. Ia perlahan membuka mata. Menghembuskan nafas demi dapat mengutuk siapapun penyebab dibalik terbangunnya dirinya. Arsa melepaskan pelukannya ditubuh Ariana. Semalam ketiganya memang tidur di atas ranjang yang sama dengan Isyana di sebelah tembok. Arsa merasa tak tenang jika membiarkan Ariana sendirian. Arsa bangkit. Ia mengangkat kakinya, duduk dipinggiran ranjang dan mengambil ponsel di atas nakas. Nama Dipta tertera pada layar, membuat Arsa mendengus- kesal setengah mati. Haruskah kakak kandungnya itu menelepon pukul enam pagi?! Tidakkah laki-laki itu tahu jika kemarin menjadi hari yang cukup berat untuk dirinya. “Hallo...” ‘Yol! Gawat!’ Mata Arsa terbuka sempurna. Punggungnya menegak. Suara panik Dipta membuat Arsa sepenuhnya sadar.

