Arsa menghempaskan diri ke atas ranjang. Malam ini ia sangat lelah dengan drama keluarganya. Ayah dan Abangnya bersikeras menyuruh para pekerja untuk membongkar rumahnya- tak membiarkan bangunan itu ada sampai matahari terbit esok hari. Damn! Keterlaluan tapi Arsa tak memiliki daya untuk melarang. Ia hanya bisa berdiam diri menyaksikan hasil tabungannya rata dengan tanah. Kepala Arsa pening memikirkan isi perabotan rumahnya. Akan dia apakan semua itu nanti. Rumah sang ayah jelas tak membutuhkan remahan elektronik miliknya. ‘Ayah ada-ada aja!,’ kesalnya sembari terpejam. Mata Arsa terbuka ketika pintu kamar lamanya- Ya.. Mereka malam ini resmi menjadi anggota rumah Farhan Darmawan yang tersohor. Ah! Mengingat sang ayah rasanya Arsa ingin tidur di hotel saja. “Kakak mana Mah?” tanya Ar

