“Jadi Dokter Karina cantik ya?” Arsa tak bisa menyembunyikan kegemasannya. Ia mempererat pelukan dengan tubuh bergetar karena tawa. Ariananya tidak sedang cemburu. Wanita itu kini tengah meledeknya. “Dia memang cantik, Sayang. Semua laki-laki pasti akan mengatakan itu. Tapi bagi aku kamu yang paling cantik.” Ujar Arsa membuat Ariana melayangkan pukulan dida*da pria itu. “Gombal..” Ia dan Ariana telah tumbuh menjadi lebih dewasa. Arsa bahagia. Sore tadi Sadewo keluar dari rumah sakit. Pria itu ingin pulang, merasa jika rumah dan keluarga adalah tempat paling baik untuk menyembuhkan dirinya. Alhasil mertuanya ikut kesana. Mereka merupakan dua orang terhebat yang pernah Arsa temui. Masa lalu tidak membuat keduanya meninggalkan tanggung jawab sebagai orang tertua. “Dia terlihat menyedihka

