“Arsaa!!” Jerit Ariana. Ia kalang kabut. Ingatan tentang ucapan ayah mertuanya masih melekat. Hanya jangan sampai melihat Dokter Karina kan?! “Arsa merem atau nggak akan aku biarin tidur di kamar nanti malem! Merem Arsaa!!” wanita itu memperingatkan manusia yang sekarang berjalan menuju pesaingnya. “Aku nabrak kalau merem, Ariana!” geram Arsa setelah membalikan tubuhnya. Mana mungkin ia bisa berjalan dengan mata tertutup. Ia tak habis pikir. Mengapa dari sebagian banyak tingkah aneh, istrinya bisa se.. akan Arsa simpan dalam hati saja. Arsa tak mau terjadi sesuatu pada jabang bayi yang Ariana kandung. Dia harus menjadi anak unggulan seperti kakaknya. Merasa mendapat atensi Arsa, Ariana langsung berjalan cepat. Ia menutup mata Arsa menggunakan tangan kanannya. Menyeret sang suami, “kata A

