Arsa telah memutuskan. Demi menjaga kehormatan kedua orang tua Ariana, ia akan menerima tawaran Dipta. Mereka harus memiliki rumah dalam waktu dekat. Ia tahu jika papa dan mama Ariana pasti merasa tidak enak hati. Satu minggu sudah mereka tinggal di rumah sang ayah. “Pah.. Jangan begitu. Ayah dan Bunda nggak merasa terbebani. Bunda justru suka karena memiliki teman untuk bicara selain Mami dan menantu.” Anisa memang terlahir sebagai anak tunggal, seumur hidupnya wanita itu hanya berteman dengan Mira- Mami Dira. “Papa yang nggak enak, Sa. Kami sudah terlalu lama merepotkan.” Kepala Arsa menggeleng. Sama sekali tidak benar. Keluarganya tak pernah merasa direpotkan. Mereka menerima keluarga Ariana dengan tangan terbuka. Terlebih sang bunda. Keberadaan Ariana sudah seperti jimat sakti yang

