“Bunda.. Adek titip Mama Mertua ya..” pinta Arsa pada Anisa. “Sayang.. Ayo..” Arsa mengajak Isyana. Putrinya tidak boleh tertinggal atau ia tak akan memiliki kekuatan lagi ketika keadaan semakin memburuk nanti. Arsa seorang dokter. Ia tahu kemungkinan terburuk apa yang akan mereka hadapi. Meski belum pasti karena semua tergantung pada takdir sang ilahi, ia harus tetap menguatkan diri. Ia adalah satu-satunya tumpuan yang Ariana miliki. Lemah tidak boleh ada dalam kamusnya meski dalam kondisi terpuruk sekalipun. “Om Mertua..” “Jack.. Tolong antar Om ke rumah sakit, ya.. Mama Isyana..” Jackson mengangguk cepat. Ia kembali membalikan tubuh, membuka pintu mobil yang baru saja ia tutup. “Ayo Om Mertua.” Ajak Jackson. Anak itu menunggu Arsa dan Isyana masuk sebelum berlari menuju kabin depan.

