Ariana mendekap erat tubuh cinta pertamanya. Pria itu adalah sang papa- Sadewa. Ariana terus terisak, menumpahkan semua kesedihannya. Ariana tidak sanggup, membayangkan betapa terlukanya pria itu telah menghadapi waktu yang sulit hari ini. Sebagai seorang putri ia gagal menjadi berkat untuk papanya. Karena dirinya sang papa harus melalui banyak sekali cobaan berat. “Ssstt.. Sayang.. Udah.. Kenapa malah nangis terus.” Bisik Sadewa sembari membelai punggung Ariana. Sadewa berduka.. Air mata Ariana bak tikaman benda tajam yang menggores dirinya. Kepada putri yang ia cintai, Sadewa pernah berubah menjadi monster kejam. Bagaimana kesedihan putrinya dulu ketika ia usir?! Rasa-rasanya ia tak pantas mendapatkan seluruh cinta Ariana. “Sayang.. Udah ya.. Kasihan kandungan kamu, Nak.” Pinta Sadewa

