“Beautiful Isyaa..” Arsa tampaknya mengambil keputusan yang salah. Ia sedikit menyesal menggunakan Jackson sebagai alat. Ariana memang tidak mengusirnya dari kamar, tapi laki-laki itu harus menahan rasa ingin membakar Jackson hidup-hidup. “Hah!” desah Arsa. Ia menggenggam erat gagang alat pel. Wajah laki-laki itu mendongak ke atas dengan tangan kiri mengipasi dirinya sendiri. Siang yang sangat panas meski di setiap ruangan rumahnya memiliki pendingin. Setiap detik Arsa selalu menghitung waktu yang telah terlewati. Ia berharap malam akan segera tiba agar pagi menyapa hari-hari mereka. Tentu dengan Jackson yang sudah ia tendang dari rumah. Licik?! - Cerdik. Sebagai pria ia hanya menggunakan rasa suka yang Jackson miliki. Ia tak menjanjikan apapun di masa depan. Ia justru membiarkan Jack

