Bab 15 Curiga

1036 Kata
Mobil Kristian mogok di saat yang paling tidak tepat. Mesin sedan hitamnya mati total di tengah jalan, memaksanya menepi dengan umpatan yang tertahan di tenggorokan. Ia sudah mencoba menyalakan ulang beberapa kali, tapi hasilnya nihil. “Anjir…” desisnya, memukul setir pelan. Hujan tipis mulai turun. Langit sore menggelap terlalu cepat. Setelah beberapa panggilan dan satu towing yang dijanjikan datang satu jam lagi, Kristian akhirnya melakukan hal yang paling tidak ia inginkan. Ia menelepon Lucas. Pamannya datang sendiri. Jika bisa dia ingin menelpon supir atau pengawal, tetapi keduanya tidak tersedia karena ayahnya berkata dia tidak harus selalu menjadi pria manja. Sebagai seorang manager dan penerus yang sedang dilatih, tentu Kristian tidak dapat memberontak. Karena posisinya di perusahaan adalah taruhannya. Setelah mempertimbangkan harga diri yang sebenarnya tidak perlu, dia akhirnya menelpon Lucas. Deringan pertama dan kedua diabaikan. Demikian pula di deringan ketiga. Akhirnya dia berinisiatif mengirimkan pesan yang mengatakan dia butuh bantuan, bukan sedang mau konsultasi kesehatan atau percintaan. Balasan datang dengan cepat dan singkat. TUNGGU. Satu kata dan cukup untuk membuat pria muda dan belum dewasa itu mendengus. Meski begitu, dia cukup lega karena Lucas tidak mengabaikannya. Tak lama kemudian sebuah mobil hitam elegan yang berhenti tepat di depan Kristian, lampunya memantul di genangan air. Jendela turun perlahan. “Masuk.” Tidak ada basa-basi. Tidak ada pertanyaan apakah ia baik-baik saja. Kristian membuka pintu penumpang, masuk, dan aroma khas mobil itu langsung menyergapnya — bersih, dingin, sedikit wangi kayu dan parfum maskulin yang samar. Lucas meliriknya sekilas. “Mobilmu kenapa?” “Mesin mati. Kayaknya harus nginep di bengkel.” “Hm.” "Sudah diatasi?" Kristian mengangguk pelan. "Seseorang akan menderek mobilku. Mereka terlalu lambat, bahkan paman jauh lebih cepat." Kristian mengeluh. "Aku kebetulan di dekat sini," jawabnya. Kristian hanya mengangguk memaklumi. Keheningan jatuh. Dia pria yang tinggal serumah bertahun-tahun itu berlagak seperti orang asing. Hanya suara hujan di kaca yang terdengar. Setelah beberapa menit, Lucas berkata datar, “Aku ada urusan. Kamu pakai mobil ini saja.” Kristian menoleh kaget. “Hah?” Lucas sudah berhenti di bahu jalan lain. “Aku pesan mobil lain.” “Om… serius?” Lucas menyerahkan kunci cadangan tanpa melihatnya. “Jangan merokok di dalam atau akan aku bakar mobilmu begitu di rumah.” Kristian bergidik karena ancaman Lucas selalu menjadi kenyataan/ Tanpa menunggu jawaban, Lucas keluar begitu saja, meninggalkan Kristian sendirian di kursi penumpang dengan mobil mewah itu. “Ya ampun…” gumam Kristian, takjub sekaligus bingung. Namun dia memang tidak ingin terus duduk canggung. Jadi, ini mungkin adalah solusi terbaik bagi mereka berdua. Ia pindah ke kursi pengemudi. Mesin mobil Lucas nyaris tidak bersuara saat dinyalakan. Dashboard bersih. Interior rapi sempurna — terlalu sempurna. Sangat Lucas. Kristian mulai mengemudi menuju mansion, tapi di lampu merah pertama, sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah benda kecil di konsol tengah. Ia mengambilnya. Lip tint. Warna peach kemerahan, kemasannya mungil, jelas bukan milik pria. Alis Kristian langsung berkerut. “Oke… ini aneh.” Lucas bukan tipe pria yang membawa wanita di mobilnya. Bahkan keluarga besar pun jarang diajak masuk ke ruang personal seperti ini. Ia membalik lip tint itu, memperhatikan detailnya. Bekas pakai. Tutupnya sedikit lecet. Ada noda warna di ujung aplikator. Artinya… ini bukan barang baru. Juga bukan kebetulan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Entah kenapa, satu wajah muncul di kepalanya. Sisil. Ia menggeleng keras. “Gak mungkin.” Namun rasa tidak enak sudah muncul. Dengan gerakan refleks, ia membuka laci dashboard. Kosong. Hanya dokumen kendaraan. Ia menutupnya lagi. Juga tanpa alasan jelas, tangannya meraih kompartemen kecil di bawah konsol. Di sana… ada amplop tipis. Kristian menariknya keluar. Bukan amplop resmi. Lebih seperti map kecil tempat menyimpan kuitansi. Ia membuka. Selembar rincian pembayaran jatuh ke pangkuannya. Nama restoran di bagian atas membuat napasnya tertahan. AMUZ Gourmet Restaurant. Restoran itu adalah sebuah restaurant Prancis mewah, eksklusif dan mahal. Tempat yang bahkan Kristian sendiri hanya pernah datangi sekali — itu pun karena Lucas mengajaknya saat ulang tahunnya dulu. Lucas tidak membawa orang sembarangan ke sana. Jika ia mengajak seseorang makan di tempat itu… orang itu penting. Sangat penting. Mata Kristian turun ke bagian detail. Table for 2 Tanggalnya… beberapa hari lalu. Dadanya seperti dipukul. “Om… ngajak siapa ke sana?” Tangannya menegang memegang kertas itu. Ia mencoba mengingat kalau hari itu Lucas pulang agak malam. Tidak menjawab telepon. Bahkan terlihat… berbeda. Pamannya lebih ringan, ceria dan hidup. Saat itu Kristian mengira pamannya hanya sedang dalam mood baik. Sekarang? Potongan-potongan itu mulai menyatu dengan cara yang tidak ia sukai. Lip tint. Restoran untuk dua orang. Senyum aneh pada ponsel. Sikap dingin Lucas padanya. Juga satu fakta yang paling mengganggu yaitu Lucas tahu tentang perselingkuhannya dengan Anne… tapi tidak pernah marah, melarang atau melakukan sesuatu seolah ia tidak peduli atau punya alasan untuk tidak peduli. Kristian menelan ludah. “Jangan bilang…” Nama itu muncul lagi di kepalanya. Sisil. Ia teringat bagaimana Sisil menolak menatapnya di teras. Bagaimana ia tampak… tidak sendiri lagi, meskipun tidak ada pria lain di sana. Bagaimana ia berkata tidak ingin kembali. Bagaimana matanya tidak lagi mencari dirinya. Tangannya mencengkeram setir. “Enggak… enggak mungkin.” Namun semakin ia menyangkal, semakin jelas kemungkinan itu. Lucas. Pamannya sendiri. Pria yang paling ia hormati… dan paling ia takuti. Jika benar… Maka Kristian bukan hanya kehilangan Sisil. Ia jelas akan kalah. Lebih buruk lagi — kalah dari keluarganya sendiri. Lampu berubah hijau. Klakson dari belakang membuyarkan pikirannya. Kristian menaruh kembali kertas itu dengan tangan sedikit gemetar. Lip tint masih ia pegang. Ia menatap benda kecil itu lama. “Kalau ini beneran punya kamu…” bisiknya pelan, seolah Sisil bisa mendengar. Ada sesuatu yang panas merambat di dadanya. Bukan sekadar cemburu atau marah. Perasaan ini lebih gelap, posesif dan egois. “Lo gak boleh milih dia, Sil,” gumamnya. "Ini jelas tidak adil." Nada suaranya tidak lagi terdengar yakin. Mobil kembali melaju, membelah jalan malam yang basah. Di dalam kabin yang seharusnya tenang itu, Kristian merasa seperti duduk di tempat yang bukan miliknya. Seolah ada orang lain yang baru saja pergi… dan meninggalkan jejak yang terlalu jelas untuk diabaikan. Untuk pertama kalinya sejak putus dengan Sisil—Kristian benar-benar takut. Karena jika dugaan ini benar…maka orang yang harus ia lawan bukan pria biasa. Melainkan Lucas, pamannya sendiri. Pria itu… tidak pernah kalah dari siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN