Bab 14 Wanita Yang Menguji

1270 Kata
Malam di mansion selalu terlalu sunyi. Lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan pepohonan di jendela besar ruang kerja. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sebelas, tapi Lucas masih duduk di kursi kerjanya dengan laptop terbuka—tanpa benar-benar bekerja. Tatapannya justru berkali-kali jatuh ke ponsel di sampingnya. Dia tidak sengaja mengirimkan pesan yang menurutnya cukup kacau. Entah bagaimana dia bisa melakukannya, sebuah pesan yang berisi ucapan terima kasih sekaligus pujian dari hati. TERIMAKASIH UNTUK HARI INI. KAMU CANTIK. Seharusnya itu menjadi pesan yang biasa, tetapi menjadi sangat luar biasa karena pria dingin seperti dirinya yang mengirimkannya. Padahal, dia tidak ingin seperti itu. Namun, tangannya bergerak lebih cepat daripada otaknya. Juga, tak bisa dibatalkan karena Sisil segera memberikan balasan. Tidak panjang dan tidak dramatis. Hanya foto boneka beruang kecil dengan caption: — Makasih ya, Om Ganteng 🧸 Sudut bibir Lucas terangkat tipis. Tanpa sadar. Lembut dan hangat. Sangat bertolak belakang dengan ekspresi dingin yang biasa ia pakai di rumah sakit. Ia memperbesar foto itu sedikit, seolah ingin memastikan boneka itu nyata. Seolah ingin memastikan gadis itu benar-benar pulang dengan senyum seperti yang ia lihat sore tadi. Dadanya terasa ringan. Aneh. Ia menekan tombol kunci, meletakkan ponsel. Lima detik kemudian… diambil lagi. “…” Lucas menatap dirinya sendiri di layar hitam yang memantul. Bodoh. Seorang dokter spesialis yang terbiasa mengambil keputusan hidup-mati pasien… sekarang gelisah hanya karena satu perempuan belum mengirim pesan lagi. Ia membuka chat itu lagi. Tidak menulis apa pun. Hanya melihat, mengulang foto, pesan dan perasaan hangat yang muncul setiap kali mengingat wajah Sisil yang bersinar di taman tadi. Tangan Lucas mengepal sedikit. Sial. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar. Mansion itu terlalu luas untuk satu orang. Dulu ia tidak pernah memikirkan hal itu. Kesendirian adalah kondisi default baginya. Nyaman. Tenang. Tidak merepotkan. Sekarang… Sepi terasa berbeda seperti kekurangan sesuatu atau seseorang. Sebuah bayangan muncul di kepalanya—Sisil duduk di sofa ruang tamu, tertawa keras, memenuhi ruangan dengan suara dan energi. Lucas memejamkan mata. Tidak baik. Dia berusaha mengenyahkan pikirannya sendiri. Ia belum ingin sejauh itu. Ponselnya bergetar pelan di tangan. Lucas refleks menoleh cepat. Harapan muncul terlalu cepat untuk ukuran pria yang selalu rasional. Namun nama yang muncul bukan Sisil. Kristian. Lucas mengernyit sedikit, lalu membuka pesan itu. — Om, lagi sibuk? Ia mengetik balasan singkat. — Tidak. Tiga titik langsung muncul. — Aku mau nanya sesuatu. Lucas menunggu. — Kalau cewek bilang nggak mau balikan… itu beneran final ya? Rahang Lucas menegang. Jadi ke sini arahnya. Ia bisa menebak siapa “cewek” yang dimaksud tanpa perlu disebut. Jempolnya berhenti di atas layar. Beberapa detik lalu ia mengetik: — Biasanya. Balasan datang cepat. — Tapi bisa berubah kan? Lucas menatap pesan itu lama. Sebuah rasa tidak nyaman merambat di d**a. Iritasi atau sesuatu yang lebih gelap. Perasaan terganggu yang membuatnya nyaris emosi. Ia membalas: — Tergantung orangnya. Lucas langsung mengunci layar. Tidak ingin melanjutkan percakapan itu, tidak ingin tahu lebih jauh dan tidak ingin mendengar bahwa Kristian masih mencoba mendekati Sisil. Dadanya terasa panas. Pikirannya mulai berpikir jauh. Dia merasakannya kalau saat ini, otaknya terasa tidak logis, tidak elegan dan tidak seperti dirinya. Lucas mengembuskan napas tajam. Ia tidak punya hak. Belum. Di ruang keluarga, Kristian duduk dengan kaki terentang di sofa, menatap ponselnya dengan frustrasi. Ia membaca balasan pamannya berulang kali. Pendek dan dingin. Seperti biasa. Namun terasa ada sesuatu yang aneh. Kristian bisa merasakannya kalau pamannya selalu memberikan saran baginya, tapi sekarang, Lucas terkesan tidak peduli dan marah? Entahlah. Ia mengetik lagi, lalu menghapus. Mengetik lagi, lalu batal. Akhirnya ia bangkit dan berjalan ke arah ruang kerja Lucas. Pintu tidak tertutup rapat. Ia mengetuk ringan. “Om?” “Masuk.” Lucas sudah kembali duduk di kursinya, ekspresi netral sempurna. Kristian masuk, mengamati pamannya dengan seksama. “Aku ganggu?” “Tidak.” Jawaban standar. Namun Kristian tidak langsung bicara. Ia menatap meja kerja itu lalu ponsel Lucas sebentar dan ke wajah Lucas. Ia sedikit membeku. Karena ia baru saja melihat sesuatu yang hampir mustahil. Lucas… tersenyum. Sangat kecil, tapi jelas. Mungkin refleks, tapi berbeda seolah baru saja membaca sesuatu yang menyenangkan. Begitu sadar diperhatikan, ekspresi itu langsung hilang. Digantikan wajah datar khasnya. Kristian mengernyit heran dan penasaran. “Ada yang lucu?” “Tidak.” Jawaban terlalu cepat. Kristian semakin curiga. Ia duduk di kursi seberang. “Om akhir-akhir ini aneh.” Lucas mengangkat alis tipis. “Dalam arti?” “Sering lihat ponsel.” Lucas diam. “Dan… senyum sendiri.” Hening. Ada perasaan diingin dan berbahaya. Tatapan Lucas terangkat perlahan. “Kerjaan.” “Kerjaan bikin Om senyum kayak gitu?” Nada Kristian setengah bercanda, setengah menyelidik. Lucas tidak menjawab. Hal itu sudah cukup mencurigakan. Kristian menyandarkan punggungnya. “Om lagi deket sama seseorang?” Lucas menatapnya lurus. “Tidak.” Jawaban datar. Tidak goyah atau memberi celah. Namun justru itulah yang membuat Kristian semakin tidak yakin. Karena pamannya bukan tipe yang perlu menyangkal. Kalau memang tidak ada, ia biasanya hanya akan mengabaikan. “Aneh aja,” gumam Kristian. Lucas tetap diam. “Aku nggak pernah lihat Om kayak gini.” Lucas akhirnya berkata pelan: “Kamu terlalu banyak waktu luang. Apa kantormu bangkrut atau apa?” Itu sindiran. Kristian mendengus kecil. “Om ini dokter, tapi lebih misterius dari pasien.” Tidak ada balasan. Beberapa detik hening lalu Kristian berkata santai: “By the way… aku berencana bertemu Sisil lagi.” Udara di ruangan itu berubah. Hanya sedikit, tapi cukup terasa bila Kristian lebih peka. Lucas tidak bergerak. Namun tangannya di atas meja menegang nyaris tak terlihat. “Oh?” “Dia masih keras kepala karena nomerku diblokirnya.” Lucas tidak berkomentar. Kristian melanjutkan: “Tapi aku rasa dia cuma butuh waktu. Aku akan mendatanginya langsung, di kontrakan atau perusahaan tempat dia bekerja.” Kalimat itu membuat sesuatu di dadaa Lucas menegang lebih keras. Rasa iritasi tadi kembali. Kali ini lebih kuat dan tajam. Namun wajahnya tetap tenang. Setidaknya dia mencoba untuk begittu. “Kalau kamu yakin, lakukan saja.” Nada suara Lucas terasa datar. Tanpa emosi, dukungan atau penolakan. Kristian memperhatikannya dengan tajam. “Om nggak keberatan kalau aku balikan sama dia?” Pertanyaan itu dilempar santai. Namun dampaknya seperti batu dijatuhkan ke air tenang. Lucas menatapnya lama lalu berkata pelan: “Itu urusanmu.” Netral. Sempurna. Tak terbaca. Kristian mengangguk pelan, tapi tatapannya tidak lepas dari wajah pamannya. Ada sesuatu yang tidak cocok. Sesuatu yang tidak bisa ia definisikan. Akan tetapi jelas ada. Ia berdiri. “Yaudah. Selamat malam, Om.” Lucas mengangguk singkat. “Selamat malam.” Kristian berjalan keluar… sambil berpikir keras. Begitu pintu tertutup, Lucas langsung meraih ponselnya. Gerakan cepat, mampir refleks. Ia membuka chat Sisil lagi menatap foto boneka itu cukup lama. Dadanya kembali terasa hangat. Namun sekarang… ada sesuatu yang lain. Rasa ingin memastikan, ingin tahu dan rasa tidak suka membayangkan Sisil bersama orang lain. Rasa yang selama ini ia hindari. Lucas menekan keningnya dengan jari. “…Ini buruk.” I ia tidak menutup chat itu dan tidak juga menjauhkan ponsel. Sebaliknya, jempolnya bergerak pelan. Dia mengetik. Berhenti. Menghapus lalu mengetik lagi. Akhirnya hanya satu kalimat yang terkirim: — Sudah tidur? Begitu pesan terkirim, Lucas menatap layar itu tanpa berkedip. Menunggu dengan jantung berdebar tidak karuan. Seorang dokter spesialis yang biasa membuat orang lain menunggu… sekarang menunggu balasan satu perempuan. Jika Kristian melihatnya sekarang, ia pasti akan semakin yakin kalau pamannya yang dingin, rasional.dan tidak pernah tertarik pada siapa pun, sedang jatuh cinta. Lucas menyadari ancaman Kristian, tapi dia juga tidak tahu harus bagaimana. Karena semua keputusan ada di tangan Sisil. Wanita itu yang akan menguji dan memberikan pilihan final antara mereka berdua. Tentu, Lucas berharap Sisil akan memilih dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN