Begitu pintu kontrakan terbuka, Sisil masuk dengan langkah ringan yang hampir melompat. Wajahnya bersinar. Tangannya memeluk boneka beruang kecil seperti piala kemenangan. Boneka dari Lucas, yang dimenangkan dengan susah payah dan menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan harga aslinya.
Dhea yang sedang rebahan sambil scroll ponsel langsung menoleh. Ia menyipitkan mata, menilai dan mengamati lalu duduk tegak. Dia sejak tadi memang menunggu Sisil, sengaja. Dia ingin tahu bagaimana kencan sahabatnya. Bila menilai dari situasinya, sepertinya tidak perlu khawatir. Namun, Sisil tersenyum terlalu lebar untuk sebuah kencan pertama.
“Oke. Ini mencurigakan.”
Sisil berhenti di tengah ruangan. Dia menatap Dhea yang melihatnya seperti seorang jaksa yang sedang menginterogasi terdakwa.
“Apanya yang mencurigakan?”
"Mana cincin permatanya?" tanya Dhea dengan tangan terulur.
"Cincin permata apa, sih? Lo ngelantur?" Sisil bingung.
"Kalau nggak ada, terus kenapa lo gitu?"
"Gitu gimana?" Sisil serius nggak mudeng.
“Lo kelihatan kayak orang habis dilamar tapi pura-pura santai.”
Sisil langsung nyengir lebar.
“Belum sih.”
Dhea melempar bantal ke arahnya.
“JADI BENERAN UDAH JADIAN?!”
Sisil tertawa, menangkap bantal itu sambil menjatuhkan diri ke kasur.
“NOT YET.”
Ia memeluk boneka itu erat-erat lalu berguling seperti anak kecil.
"Tapi, Om bilang, dia positif mempertimbangkan ke arah sana. Hehe." Sisil cengengesan.
Dhea melongo.
“Ya ampun… lo beneran berubah jadi cewek SMA.”
Sisil duduk lagi, rambutnya sedikit berantakan, pipinya merah.
“Dhea… Om Lucas tuh… parah.”
“Parah gimana?”
“Parah bikin deg-degan. Dia kayak pria kolot, tapi ternyata dia act of service dan romantis bangett. Hati gue meleleh, deh.”
Dhea menyilangkan tangan.
“Oke. Cerita dari awal, dong. Jangan lompat-lompat.”
Sisil langsung mode storyteller melihat Dhea memasang wajah serius dan siap menyimak segala ceritanya saat ini.
“Dia jemput gue tepat waktu.”
“Standar.”
“Dia turun dari mobil buat bukain pintu bue gue. Gila gak, sih. Mana hari ini dia super duper ganteng.” Sisil nyaris berteriak histeris, tapi ditahan.
Dhea hanya diam, sedang berpikir sebelum mengungkapkan opininya.
“…Oke itu nggak standar.”
“Terus kita brunch di tempat fancy banget.” Sisil melanjutkan.
“FANCY level apa?”
“Harga omelet setara skincare gue sebulan. Harga makanannya mungkin setara bayar kontrakan tiga bulan.”
Dhea menepuk dahi.
“Ya Tuhan. Lo dimanjain om-om mapan.”
Sisil menutup wajah dengan boneka.
“Aku takut sendoknya juga mahal.” Ia melanjutkan cerita tanpa disuruh.
“Terus kita jalan di taman, ngobrol… normal tapi nggak normal.”
“Penjelasan lo sangat membantu.” Dhea mengerutkan kening. "Normal tapi nggak normal itu gimana?"
“Normal karena santai. Nggak normal karena dia tatap gue kayak… serius banget.”
Dhea langsung menunjuk.
“ITU. Itu bahaya.”
Sisil memiringkan kepala.
“Bahaya kenapa?”
“Cowok dingin kalau udah serius sama dengan nggak main-main.”
Pipi Sisil makin merah.
“Terus…” Sisil menatap bonekanya, senyum tidak bisa ditahan, “dia ambilin ini buat gue.”
Dhea merampas boneka itu.
“Lo suruh?”
“Gue cuma bilang mau.”
“Bedanya apa, Sisil?!” Dhea kesal dikit.
Sisil tertawa.
“Dia gagal beberapa kali.”
Dhea membeku.
“Om Lucas… main capit boneka?”
“Demi gue.” Sisil menambahkan dengan nada sombong.
Dhea menatap langit-langit.
“Gue butuh waktu buat mencerna ini.”
Sisil mengangguk mengiyakan karena paham sekali keterkejutan sahabatnya tersebut.
Hening sebentar lalu Sisil berkata pelan, nyaris malu:
“Dia juga… pegang tangan gue.”
Dhea langsung menoleh cepat.
“SIAPA PEGANG SIAPA?”
“Gue minta.”
“…Lo beneran nggak punya rem ya?”
“Tapi dia mau, tuh.”
Dhea jatuh ke kasur.
“Ya Tuhan. Tamat riwayat dokter dingin dikejar cewek gila kayak lo.”
Sisil memeluk lututnya. Tatapannya melamun.
“Dia hangat banget, Dhe.”
Nada suaranya berubah lembut. Bukan pamer lagi. Lebih… jujur.
“Padahal kelihatannya kaku, dingin, galak, tapi sebenarnya… perhatian banget.”
Dhea mengamatinya.
“Lo udah jatuh cinta banget ya. Gue bisa liat lo lebih kecintaan sama si Lucas daripada sama Kristian. Bahkan tiga tahun lo sama dia banyakan menderitanya daripada singkat tapi bahagia banget sama si Lucas.” Dhea memberikan pendapatnya. Fakta sebenarnya. Sisil juga merasa begitu, makanya dia tidak menyangkal.
“Kayaknya gitu, sih.”
Tiba-tiba ia tersenyum lagi.
“Terus gue bilang…”
Dhea langsung mode reporter lagi.
“APALAGI.”
“Gue suka banget sama Om.”
Dhea menjerit tanpa suara, menutup mulut dengan bantal.
“GILA LO.”
“Dia bilang ‘Aku tahu.’”
Dhea menjatuhkan bantal itu.
“Oke. Ini bukan romansa biasa. Ini romansa dewasa mapan.”
Sisil nyengir bangga. Beberapa detik kemudian Dhea menyipitkan mata.
“Tunggu.”
Sisil menoleh.
“Dia nganter lo pulang?”
“Iya.”
“Turun dari mobil?”
“Enggak.”
“Hmm.”
Sisil mengerutkan dahi. “Kenapa?”
Dhea menunjuk dengan dramatis.
“Itu artinya dia nahan diri.”
“Hah?”
“Cowok yang udah kepincut tapi nggak mau kelihatan terlalu obvious.”
Sisil membeku.
Pipi merah lagi. Ia jatuh telentang ke kasur.
“Mati gue.”
Dhea tertawa puas.
“Akhirnya lo kena juga.”
“Kenapa rasanya beda banget ya sama Kristian?”
Suasana berubah sedikit. Lebih serius.
“Beda gimana?” tanya Dhea pelan.
Sisil menatap langit-langit.
“Kalau sama Kristian… gue sering capek. Harus ngerti dia, harus ngalah, harus jaga perasaan dia.”
Ia memeluk boneka itu lagi.
“Kalau sama Om Lucas… gue bisa jadi diri gue banget.”
Dhea tidak bercanda kali ini.
“Itu namanya nyaman. Juga pesona pria matang.”
Tiba-tiba Sisil duduk lagi.
“Maksudnya… ini bukan rebound kan?”
Dhea langsung menggeleng.
“Rebound itu pelarian. Lo ini ngegas.”
“Bedanya?”
“Rebound biasanya nggak peduli orangnya siapa.”
Dhea menunjuk Sisil.
“Lo peduli banget.”
Sisil terdiam lalu berkata pelan, “Gue pengen serius.”
Dhea tersenyum kecil.
“Kelihatan.”
“Tapi gue takut.”
“Takut apa?”
Sisil menggigit bibir.
“Dia terlalu bagus.”
Dhea menatapnya lama lalu berkata santai:
“Yaudah. Jadiin target hidup.”
“DHEA!”
Mereka tertawa bersamaan.
Beberapa saat kemudian, Sisil berbaring sambil menatap ponselnya. Tidak ada pesan baru.
Ia tidak berani chat duluan.
“Apa gue harus chat?” bisiknya.
Dhea langsung menjawab. “ENGGAK.”
“Kenapa?”
“Biar dia yang mikirin lo.”
Sisil menggigit bibir.
“Tapi gue pengen.”
Dhea menyeringai.
“Ya udah kirim aja: ‘Om, aku kangen.’”
“GILA LO.”
Akhirnya Sisil hanya membuka galeri.
Ada foto boneka. Ia tersenyum sendiri. Dadanya hangat.
Hari itu terasa seperti mimpi. Hal yang paling menakutkan—Ia tidak ingin mimpi itu berakhir.
Tepat saat mimpi itu masih indah, sebuah chat datang.
LUCAS : TERIMA KASIH HARI INI. KAMU CANTIK.
Sisil langsung menjerit dan memeluk Dhea erat. Keduanya saling tertawa bahagia.