Bab 12 First Date

1296 Kata
Lucas datang tepat waktu. Bukan lima menit lebih awal. Bukan satu menit terlambat. Tepat waktu seperti manusia yang hidupnya diatur oleh jadwal operasi dan kalender digital. Mobilnya berhenti di depan kontrakan Sisil pukul 10.00 siang. Sisil yang sudah menunggu di balik tirai langsung berbisik panik. “DIA DATENG.” Dhea, yang duduk di kasur sambil makan keripik, hampir tersedak. “Ya elah, bukan penagih utang, kan?” “Ini lebih serem!” Sisil berlari ke cermin sekali lagi, memastikan lip tint tidak beleber, eyeliner tidak miring, rambut jatuh natural—padahal lima menit sebelumnya sudah dicek sepuluh kali. Hari ini ia memakai dress biru muda sederhana, sepatu flat putih, dan tas kecil. Tidak terlalu formal, tapi jelas lebih niat dari biasanya. “Gue kelihatan kayak mau nikah gak?” bisiknya panik. Dhea menatapnya dari atas ke bawah. “Lo kelihatan kayak cewek baik-baik yang bakal merusak hidup dokter mapan.” “DHEA!” Belum sempat ia balas, terdengar bunyi klakson pendek dari luar. Suaranya terdengar halus, sopan dan tidak maksa. “Ya Tuhan,” gumam Sisil. Dhea langsung berdiri dan mendorong punggungnya ke pintu. “Pergi sana. Jangan bikin om-om tajir nunggu lama.” "Gue akan berhasil ngegoda dia, kan?" tanya Sisil mengharapkan validasi. Dhea tergelak pelan, "Gue yakin lo bukan cuma berhasil ngegoda, lo bakal makan itu om hari ini." "DHEA!" Dhea hanya tergelak lalu mendorong Sisil keluar lalu melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan paksa. Begitu Sisil keluar pagar, Lucas sudah berdiri di samping mobilnya. Pria matang itu mengenakan kemeja polos, celana bahan gelap, jam tangan mahal yang tidak mencolok tapi jelas mahal, dan aura… terlalu rapi untuk ukuran hari Minggu. Tatapannya langsung melembut saat melihatnya. “Kamu siap?” Sisil mengangguk, berusaha terlihat santai padahal jantungnya seperti drum konser. “Siap, Om.” Lucas membukakan pintu penumpang. Gesture kecil. Sangat klasik dan sangat… om-om mapan. Namun, bagi Sisil yang tidak pernah dibegitukan oleh Kristian, Lucas sangat act of service. Poin plus nambah buat om Lucas, jerit Sisil dalam hati. Sisil masuk sambil menahan senyum. Begitu duduk, ia mencuri pandang. Mobil Lucas terlihat sangat bersih, wangi dan ada playlist instrumental pelan. Ini seperti persiapan ngedate. Sisil menjadi semakin antusias. “Om kalau nyulik orang pasti sukses,” celetuknya. Lucas menoleh sedikit. “Kenapa?” “Mobilnya nyaman banget.” “Terima kasih… kurasa aku nggak berbakat nyulik orang.” Sisil terkikik, "Aku sukarela diculik, Om," katanya sembari menunjuk tas merah di bahunya. Tas mahal yang nbernilai empat raus juta. "Kamu suka tasnya? Nanti aku belikan yang lain." Sisil langsung tersedak, "Nggak usah, Om. Ini aja belum rusak," tolak Sisil halus. "Biar bisa ganti-ganti," sahut Lucas pelan lalu membantu Sisil memasang sabuk pengaman. Sisil rasanya hampir nggak bisa napas karena itu. Setelahnya perjalanan dimulai. Awalnya tenang lalu Sisil tidak tahan. Ada banyak pemikiran berkeliaran di otaknya. “Om biasanya kencan ke mana?” Lucas tampak berpikir sebentar. “Aku jarang berkencan.” “Jarang… atau nggak pernah?” Lucas meliriknya. “Tidak pernah.” Sisil membelalak. “Serius?!” “Kenapa kamu terdengar lebih kaget daripada aku?” “Ya soalnya Om udah…” Ia berhenti mendadak. Lucas mengangkat alis. “Sudah apa?” “…dewasa.” “Terima kasih.” “Bukan gitu maksudnya!” Lucas menahan senyum. Mereka berhenti di sebuah restoran brunch yang elegan tapi tidak terlalu formal. Tempatnya tenang, banyak tanaman, interior kayu hangat. Tempat favorit orang mapan. Begitu duduk, pelayan langsung datang. Lucas menyerahkan menu ke Sisil lebih dulu. “Kamu pilih.” Sisil membuka menu, lalu membeku. Harga makanan di sana bisa buat bayar listrik tiga bulan. “Oke… ini… makanannya pake emas?” Lucas tenang. “Tidak.” “Yakin?” “Yakin.” Akhirnya Sisil memilih makanan paling aman. Lucas memesan tanpa melihat menu lama—tanda dia sudah sering ke sana. “Om sering ke sini?” “Kadang.” Kadang versi orang kaya. Obrolan mulai mengalir. Sisil makan sambil cerita random tentang kantor, Dhea, drama audit, bahkan cerita konyol soal printer rusak. Lucas mendengarkan, hanya menyimak dengan minim respons. Lucas hanya sesekali bertanya. Sesekali memberi komentar pendek tapi tepat. Tidak memotong. Tidak menggurui. Hal itu… bikin Sisil makin nyaman. “Om kalau umur dua puluhan lagi bakal jadi cowok populer sih.” Lucas menatapnya. “Aku pernah umur dua puluhan.” “Iya tapi kita beda generasi. Dulu kan belum ada TikToak.” “Aku bersyukur.” Sisil tertawa. "Om takut populer karena jadi dokter tampan, mapan dan bikin nyaman ya?" "Aku gitu buat kamu?" Sisil menggangguk malu-malu. Lucas senang dengan reaksi Sisil meski wajahnya masih berusaha datar. Setelah makan, mereka jalan santai di area taman kecil di belakang restoran. Angin siang berembus pelan. Sisil berjalan di samping Lucas, sesekali menendang kerikil kecil. “Om.” “Ya?” “Kenapa Om mau kencan sama aku?” Pertanyaan polos, tapi jujur. Lucas berhenti lalu menatapnya. “Kenapa kamu mengajakku?” tanyanya balik. Sisil langsung menjawab tanpa ragu. "Kenapa masih nanya?" "Aku mau tahu jawabannya." “Karena aku suka Om.” Lucas terdiam beberapa detik. Tatapannya dalam, sulit dibaca. “Aku ingin mengenalmu lebih jauh,” katanya akhirnya. Bukan kalimat manis atau rayuan. Namun terasa jauh lebih serius. Pipi Sisil memanas. "Artinya... Om tidak menolakku, kan?" Lucas mengangguk. Rasanya, ada kembang api di pikiran Sisil sekarang. Dia ingin berteriak kegirangan tapi berusaha ditahan karena berada di depan Lucas. Mereka melanjutkan berjalan, masih di area restaurant. Tiba-tiba Sisil melihat mesin capit boneka di sudut area permainan kecil. Matanya langsung berbinar. “OM.” Nada suaranya berubah jadi mode anak kecil. Lucas langsung curiga. “Apa?” “Aku mau itu.” Ia menunjuk boneka beruang kecil di dalam mesin. Lucas menatap mesin itu… seolah sedang menilai alat operasi. “Kamu yakin itu bisa diambil?” “Bisa lah!” Lima menit kemudian… Lucas sudah mencoba tiga kali. Gagal semua. Sisil menahan tawa sampai bahunya gemetar. “Om dokter spesialis tapi kalah sama mesin capit boneka.” Lucas menatap mesin itu dengan serius. “Ini tidak adil.” “OM ITU MESIN BONEKA BUKAN PASIEN.” Akhirnya setelah beberapa kali percobaan, mungkin yang kelima puluh, BERHASIL. Boneka jatuh. Sisil bersorak kecil seperti anak TK. Lucas mengambil boneka itu dan menyerahkannya padanya. Sisil memeluknya dengan bahagia berlebihan. “Makasih, Om.” Lucas menatapnya beberapa detik… ekspresinya melunak sepenuhnya. “Tidak masalah.” Saat berjalan kembali ke mobil, Sisil tiba-tiba berkata santai: “Om, aku boleh pegang tangan Om gak?” Lucas langsung berhenti. “Apa?” “Pegang tangan doang.” “Kamu selalu langsung ke inti.” “Biar efisien.” Lucas menghela napas pelan… lalu mengulurkan tangannya. Sisil langsung menggenggam. Tangan Lucas terasa besar dan hangat. Lucas tidak menolak genggaman tangan Sisil, tapi juga tidak membaalsnya. Entah kenapa, itu terasa sangat berarti bagi Sisil. Setelahnya, mereka memutuskan pulang karena Sisil sudah terlihat lelah. Di dalam mobil saat mengantarnya pulang, Sisil bersandar santai sambil memeluk boneka. “Om.” “Ya?” “Kencan pertama kita sukses.” “Kamu yang menilai.” “Ya lah. Aku puas.” Lucas hampir tertawa. “Standarmu rendah.” “Enggak. Om aja yang tinggi.” Mobil berhenti di depan kontrakan. Sisil tidak langsung turun. Ia menoleh, menatap Lucas. “Om.” Lucas menunggu. “Hari ini, aku makin suka sama Om.” Lucas membeku sepersekian detik. Kalimat itu terlalu sederhana… tapi efeknya tidak sederhana. “Aku tahu,” katanya pelan. Sisil tersenyum lebar, lalu turun dari mobil. Sebelum menutup pintu, ia menunduk sedikit. “Makasih atas kencannya, Om. Aku bahagia.” Pintu tertutup. Lucas tetap duduk di sana beberapa detik. Tangannya masih terasa hangat. Namun, anehnya dia merasa tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidupnya terasa tidak monoton. Hal itu karena satu perempuan tengil yang memanggilnya Om. "Ini kencan pertama yang menarik," ucapnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan kontrakan Sisil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN