Bab 11 Ajakan

1260 Kata
Lampu lantai tujuh masih menyala terang ketika sebagian besar gedung sudah gelap. Di luar jendela, kota terlihat seperti lautan lampu kecil yang berpendar lelah. Di dalam ruangan divisi keuangan, suasananya jauh dari tenang. Berkas berserakan. Laptop menyala di hampir setiap meja. Printer berdengung tanpa henti. Bau kopi instan dan kertas panas memenuhi udara. Audit akhir bulan selalu seperti ini. Sisil bersandar di kursinya, satu tangan memijat tengkuk, mata menatap layar Excel yang dipenuhi angka panjang seperti mantra kuno. “Kalau angka ini salah satu digit aja,” gumamnya lirih, “kita bisa dicari auditor kayak buronan.” Di meja sebelah, Dhea bahkan tidak mengangkat kepala. “Bukan kayak buronan, Sil. Kita bakal dipanggang hidup-hidup.” Sisil tertawa kecil, meski suaranya lelah. Mereka berdua memang satu tim sejak awal masuk perusahaan asuransi itu. Dari masa training sampai sekarang, selalu duduk bersebelahan. Bahkan tinggal satu kontrakan. Teman SMA, teman kerja, teman curhat. Paket lengkap. Dhea meneguk kopi kaleng yang sudah hampir habis, lalu meringis. “Dingin. Sama kayak mantan lo.” “Ngapain lo mikirin dia? Rindu mantan gue lo?” goda Sisil. “Njirrr, nggak ya. Najiz. Gue cuma beranalogi,” sanggahnya. Sisil menggeleng sambil kembali mengetik. Jari-jarinya mulai terasa kaku. “Sil,” kata Dhea tiba-tiba, “lo serius besok masuk lagi?” “Enggak. Gue ambil cuti sehari. Otak gue butuh direstart.” "Gue juga pengen, tapi HRD bakal mecat gue kalau gue dan lo cuti barengan." Sisil ketawa, "Dia mungkin akan kena serangan jantung kalau kita berdua minta cuti." Mereka tertawa pelan, suara mereka menggema tipis di ruangan yang setengah kosong. Jam di layar menunjukkan pukul 20.47. Sebagian staf sudah pulang. Tinggal tim inti audit yang masih bertahan. Sisil meraih cermin kecil dari tasnya, sekadar memastikan wajahnya tidak terlihat seperti zombie. Bedak sedikit luntur, lip tint hampir hilang. “Kenapa sih tiap lembur gue kelihatan kayak korban kiamat?” gerutunya. Dhea melirik sekilas. “Masih cakep kok. Tenang aja.” “Cakep versi lampu kantor.” “Cakep versi cowok mana pun.” Sisil mendengus, tapi senyumnya muncul juga. Ia kembali fokus ke layar ketika ponselnya tiba-tiba bergetar di meja. Nama yang muncul membuat jantungnya langsung melonjak. Om Lucas. Matanya membesar. Dhea langsung sigap mendekat seperti radar gosip. “Siapa? Siapa? Siapa?” Sisil berbisik panik, “Om Lucas.” Dhea langsung menepuk meja tanpa suara, ekspresinya dramatis. “ANGKAT!” "Iya ini mau gue angkat, agak minggir sana, gue butuh udara," ujar Sisil sambil menyenggol pelan lengan Dhea. "Lo kurus, nggak perlu banyak ruang. Buruan ah, gue kepo," desak Dhea. Sisil menelan ludah lalu menerima panggilan. “Halo?” Suara di seberang sana rendah, tenang… dan entah kenapa terasa dekat sekali. “Mau kopi?” Sisil berkedip. “…Hah?” “Mumpung masih panas,” lanjut Lucas santai. “Aku ada di depan kantormu.” Otak Sisil butuh beberapa detik untuk memproses kalimat itu. Di depan kantor. Daada Sisil langsung deg-degan seperti alarm kebakaran. “Om… di depan kantor? Sekarang? Right now?” tanyanya seolah tak percaya dengan pendengarannya. “Iya.” Dhea sudah hampir meloncat dari kursi, menutup mulut supaya tidak teriak. Lucas melanjutkan, nada suaranya ringan seolah ini hal paling normal di dunia. “Kalau kamu sibuk, tidak apa-apa. Aku cuma lewat.” Lewat apanya. Dokter mana lewat depan kantor perempuan malam-malam bawa kopi? Sisil berdiri mendadak, kursinya berderit. “Enggak sibuk! Maksudnya… lagi lembur sih, tapi… aku bisa turun bentar.” “Baik. Aku tunggu.” Panggilan berakhir. Dhea langsung memekik tanpa suara. “AAAAAA SIL GUE MERINDING!” Sisil sudah membuka tas, panik mencari lip tint. “Gue kelihatan capek gak?” “Enggak! Lo kelihatan kayak cewek yang mau kencan diam-diam.” Sisil buru-buru merapikan rambut, menepuk pipi, mengoles ulang lip tint. “Kenapa dia tiba-tiba ke sini sih…” Dhea menyeringai lebar. “Karena dia kangen.” “Dhea!” “Fakta, bukan opini.” Sisil mengambil napas dalam, mencoba terlihat santai. “Gue turun bentar ya.” “Turun bentar? Lo kalau bisa jangan balik sekalian.” Sisil mencubit lengan Dhea sebelum berjalan cepat ke lift. Udara malam menyambutnya begitu pintu gedung terbuka. Lebih sejuk dari dalam kantor, membawa aroma aspal dan sedikit wangi makanan dari warung sekitar. Di pinggir jalan, sebuah mobil hitam terparkir rapi. Lucas berdiri di sampingnya. Kemeja lengan panjang digulung sampai siku, dasi dilepas, penampilan santai tapi tetap rapi. Di tangannya ada dua gelas kopi kertas. Sisil melambat tanpa sadar. Dadanya berdegup kencang tapi bibirnya tersenyum lebar. Lucas menoleh begitu menyadari kehadirannya. Tatapannya langsung fokus padanya, dan ekspresinya melunak tipis. “Kamu benar-benar turun.” “Om beneran di sini,” balas Sisil. Lucas mengulurkan satu kotak berisi empat gelas. “Latte. Tidak terlalu manis. Buat kamu dan teman-teman kantormu.” Sisil menerimanya, jari mereka bersentuhan sebentar. Panas. Bukan cuma dari kopinya. “Om habis kerja?” tanyanya. “Baru pulang.” “Terus… langsung ke sini?” Lucas tidak langsung menjawab. Hanya memandangnya beberapa detik sebelum berkata, “Kebetulan lewat.” Sisil menyipitkan mata. “Kebetulan banget ya.” Lucas tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi— “Dokter!” Suara berat dari arah pos satpam. Seorang pria paruh baya melambaikan tangan dengan ramah. Seragam satpamnya rapi, wajahnya cerah. Pak Marsan. “Lembur lagi mbaknya?” sapanya pada Sisil. “Iya, Pak.” Pak Marsan kemudian menatap Lucas dengan senyum penuh arti. “Dokter nungguin dari tadi, loh.” Sisil langsung menoleh cepat ke Lucas. “Dari tadi?” Lucas tampak… sedikit kaku. “Saya baru sampai,” katanya cepat. Pak Marsan mengangguk terlalu bersemangat. “Iya, baru… sekitar setengah jam.” Hening. Lucas berdeham. Pak Marsan mendadak terlihat sadar bahwa ia baru saja membocorkan sesuatu. “Saya patroli dulu ya,” katanya cepat, lalu benar-benar pergi sebelum situasi makin canggung. Sisil menahan senyum. “Om kenal Pak Marsan?” Lucas memasukkan tangan ke saku, terlihat sedikit gugup — sesuatu yang jarang sekali terjadi padanya. “Beberapa kali menjemput pasien di sini.” “Ooooh. Pasien di kantor ini? Siapa ya... kok nggak pernah dengar ambulan datang...” Nada Sisil penuh makna. Lucas menatapnya tajam. “Jangan aneh-aneh.” Sisil tertawa kecil. Mereka berdiri bersebelahan, menikmati malam. Lalu lintas malam lewat pelan di depan mereka. Tidak perlu banyak kata. Aneh rasanya… tapi nyaman. “Lembur berat?” tanya Lucas akhirnya. “Audit akhir bulan. Neraka dunia.” “Kamu terlihat lelah.” Sisil menatapnya. “Kelihatan jelek gak?” Lucas menggeleng pelan. “Tidak.” Tatapannya turun sekilas ke wajahnya, lalu kembali ke mata. “Kamu tetap terlihat… seperti biasanya. Cantik.” Jawaban yang manis dan cukup mengganggu. Tidak baik untuk kesehatan jantung Sisil. Sisil menggigit bibir menahan senyum. Mereka kembali diam beberapa saat lalu tiba-tiba— “Om.” “Ya?” Sisil menoleh, matanya berbinar nakal. “Besok aku libur.” Lucas mengangkat alis sedikit. “Bagus.” Ada jeda kemudian Sisil berkata santai, seolah tidak sedang menjatuhkan bom. “Mau kencan sama aku nggak?” Waktu terasa berhenti. Lucas benar-benar terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, pria itu terlihat kehilangan kata-kata. Sisil menunggu, menyesap kopi dengan tenang, seolah tidak barusan mengajak dokter dingin itu berkencan. Lucas akhirnya mengembuskan napas pendek, matanya menyipit tipis. “Kamu selalu langsung ke inti.” “Efisien.” Sudut bibir Lucas terangkat… sangat tipis, tapi nyata. “Jam berapa?” Jantung Sisil langsung jungkir balik. Ia berhasil. “Siang aja,” jawabnya cepat sebelum keberaniannya habis. "Pagi aku ingin tidur. Malam ini pasti begadang." Lucas mengangguk pelan. “Baik. Kamu harus fresh.” Sisil dan Lucas saling menatap dengan senyuman dan tatapan manis penuh makna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN