Bab 10 Lega

1222 Kata
Perjalanan pulang terasa lebih ringan dari biasanya. Lucas tidak memutar musik. Tidak juga membuka pesan apa pun. Ia hanya menyetir dengan satu tangan, pandangan lurus ke depan, dan sudut bibir yang nyaris—nyaris—terangkat. Perkataan tegas dari Sisil sudah cukup. Dia tidak butuh pidato panjang atau penjelasan dramatis. Kenyataan kalau Sisil masih berniat mengejarnya dan tidak luluh pada Kristian, sudah cukup untuk membuat sesuatu yang sejak kemarin mengganjal di dadanya perlahan mengendur. Nggak balikan. Kesimpulan itu saja sudah cukup untuk membuatnya bahagia dan merasa lega. Jujur, selama dua hari, dia hampir tidak bisa tidur dan selalu mencoba fokus ke pekerjaan agar tidak kepikiran soal ini, sekarang akhirnya dia bisa pulang tanpa berpikir harus menghajar Kristian. Mobil memasuki halaman mansion keluarga. Lampu-lampu taman menyala hangat. Bangunan besar itu selalu terlihat megah dan terlalu sunyi di malam hari. Rumah itu milik ayahnya dulu, lalu turun ke dirinya setelah sang kakak memilih hidup lebih sederhana di luar kota. Meski begitu, Kristian tetap tinggal di rumah itu karena tuntutan pekerjaan dan gengsi. Lagipula Lucas mungkin akan kesepian bila tinggal sendirian di mansion sebesar itu. Kakak Lucas, ayah Kristian memang cukup berbeda. Selain lebih tua sepuluh tahun darinya, kakaknya banyak berperan seperti ayah dibandingkan kakak baginya. Jujur, sepuluh tahun adalah jarak usia membuat Lucas tumbuh hampir seperti anak tunggal. Kristian lahir saat Lucas sudah remaja. Hubungan mereka lebih mirip sepupu daripada keponakan. Itulah kenapa Kristian jelas tidak sungkan padanya. Malam ini, Lucas sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Itulah kenapa dia pulang setelah dua hari menginap di rumah sakit dengan alasan lembut. Lucas masuk ke dalam rumah dengan santai. Jasnya ia letakkan di sandaran kursi ruang tamu. Dari arah ruang keluarga terdengar suara televisi menyala pelan. Kristian duduk di sofa, tubuhnya agak membungkuk, satu tangan memegang ponsel. Wajahnya terlihat lecek. Mata sembab seperti orang kurang tidur. Lucas berhenti sebentar di ambang pintu. Dia sedang menilai dan menikmati keterpurukan Kristian. Dia hampir tertawa tetapi berusaha keras menahan diri agar tidak kentara kalau bahagia di atas penderitaan keponakannya. Kristian mendongak saat mendengar langkah kaki. “Oh. Om, sudah pulang rupanya.” Lucas hanya mengangguk tipis. “Belum tidur?” Kristian mematikan televisi. Ekspresinya campuran antara canggung dan berharap. “Belum. Aku… nunggu Om juga sebenernya.” Lucas berjalan santai ke arah minibar kecil, menuangkan air putih ke gelas kristal. Gerakannya tenang dan terukur. “Kenapa?” Kristian berdiri, lalu duduk lagi. Gelisah jelas terlihat di ekspresi dan gesturenya. “Aku ketemu Sisil kemarin lusa.” Lucas meneguk airnya tanpa menoleh. “Aku tahu.” Kristian terdiam sebentar. “Dia cerita?” “Tidak.” Lucas meletakkan gelasnya pelan. Baru kemudian menatap Kristian. “Kamu yang chat aku, kan?” Rahang Kristian mengeras sedikit. “Oh. Aku kira paman nggak lihat chatku karena belum dibalas sampai sekarang.” "Aku lupa." Alasan klasik yang sulit dipercaya. Kristian bahkan hampir mendengus karena keraguannya. Ada hening yang canggung karenanya. “Jadi?” tanya Lucas datar. Kristian mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Dia nggak mau.” Lucas mengangguk kecil. Tidak ada ekspresi terkejut. Tidak ada simpati berlebihan. “Hm.” Cuma itu. Kristian mengangkat wajahnya, seolah berharap reaksi lebih besar. “Cuma ‘hm’?” “Apa yang kamu harapkan?” “Ya… entah. Saran? Atau—” “Kamu sudah dapat jawabannya.” Lucas duduk di kursi seberangnya. Posisi tubuhnya santai, kaki menyilang rapi. “Dia tidak mau balikan.” Kristian terlihat frustrasi. “Tapi aku masih sayang.” Lucas menatapnya tanpa berkedip. “Sayang bukan alasan untuk kembali.” “Om nggak ngerti.” Lucas hampir tersenyum. Oh, aku sangat mengerti. Ia hanya memilih tidak menjelaskan. Kristian mendesah kasar. “Dia bilang nggak bisa maafin atau balikan sama aku. Juga, dia bilang nggak akan ada kesempatan kedua.” Lucas tidak berkata apa pun. Namun dalam kepalanya, ia mengulang kalimat Sisil tadi di kepalanya. Diperjelas dengan tambahan dari Kristian, dia menjadi semakin merasa lega. Hatinya seperti terlepas dari beban yang menghimpit dadanya selama dua hari. “Kalau aku coba lagi gimana?” Kristian menatap Lucas, mencari celah. "Apa harus aku putusin Anne? Tapi, aku dan dia, sama sekali tidak pacaran." Lucas menyandarkan punggungnya. “Itu hakmu.” Nada suaranya tetap dingin dan netral. "Lagipula, mana ada orang yang tidak ada hubungan tapi berbagi sentuhaan dan kata-kata manis, Kris?" Kristian menghela napas panjang, "Anggap saja friend tapi romance, Om." Lucas hampir mengumpat keponakannya, tapi berhasil mencegah mulutnya agar tidak mengutuk. "Kami sudah bersama selama tiga tahun, harusnya dia bisa maafin satu kesalahanku, kan? Aku hanya khilaf." "Bodoh," sahut Lucas singkat. Kristian menyipitkan mata. “Om kayaknya seneng ya aku ditolak?” Lucas menatapnya lurus. “Aku tidak ikut campur urusan percintaanmu.” Bohong. Tentu saja dia ingin ikut campur, tapi hasilnya sudah keluar. Jadi, dia tidak perlu melakukan apapun. Sisil tetap ada di jalurnya, bukan berbalik ke jalur Kristian lagi. Kristian ingin berkata sesuatu lagi, terlihat jelas dari caranya membuka mulut lalu menutupnya kembali. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat wajahnya berubah. Anne. Lucas melihat perubahan ekspresi itu. Keponakannya terlihat kesal, tegang dan bimbang. “Angkat,” kata Lucas santai. "Siapa tahu penting." Kristian mendesah lalu menjauh sedikit untuk menerima telepon. “Iya, Anne… gue lagi di rumah.” Suaranya rendah, tapi tetap terdengar di ruang yang sunyi itu. “Iya gue bilang nanti dulu… jangan sekarang.” Lucas duduk diam. Wajahnya tanpa emosi. Padahal ia sudah tahu tentang Anne dan Kristian sejak lama. Pertama kali ia curiga saat melihat pesan masuk tengah malam yang terlalu sering. Juga dari cara Kristian menghindar saat nama Anne disebut di meja makan keluarga. Anne bukan perempuan bebas. Anne bertunangan. Lucas tahu itu. Ia juga tahu hubungan itu bukan cinta yang bersih. Lebih ke pelarian. Kristian dan Anne memang hanya sebatas hubungan pribadi tanpa status, tetapi perselingkuhan jelas salah. Kristian kembali mendekat setelah menutup telepon dengan wajah kesal. “Ribet banget,” gumamnya. Lucas tidak bertanya. Itu tidak perlu. Dia tidak suka ikut campur kecuali dianggapnya penting. Anne jelas bukan hal penting baginya. “Apa?” Kristian menatap Lucas, seolah merasa sedang dinilai. “Tidak ada.” “Om tau nggak sih rasanya diserang terus kayak gini?” Lucas memiringkan kepala sedikit. “Kamu yang memilih situasinya.” Kristian terdiam. Untuk sesaat, ia terlihat ingin membantah. Tapi tidak ada kalimat yang cukup kuat untuk melawan fakta itu. Lucas berdiri. Pembicaraan selesai. Saat ia berjalan melewati Kristian, ia berhenti sebentar. “Kamu sebaiknya bereskan satu hal sebelum memulai yang lain.” Kristian menoleh. “Maksudnya?” Lucas menatapnya sekilas. “Kalau kamu benar ingin kembali ke Sisil, pastikan tidak ada Anne di belakangnya.” Nada itu tetap datar. Tidak mengancam atau menghakimi, tapi cukup membuat Kristian membeku. “Om, aku...” Suaranya berhenti, tidak berlanjut. Lucas sudah berjalan pergi, meninggalkan keponakannya dengan wajah yang sedikit lebih pucat. Dia seolah berkata dengan tindakan bahwa tidak ada lagi yang perlu dibahas dengannya. Di koridor menuju kamarnya, Lucas akhirnya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Ia tidak perlu meninju Kristian. Tidak perlu berteriak atau memperingatkan agar menjauh dari Sisil. Realitas sudah cukup menghantam Kristian sendiri. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil benar-benar muncul di wajah Lucas. Bukan karena Kristian menderita melainkan karena Sisil tidak kembali. Itu saja sudah cukup membuatnya merasa senang dan menang. Untuk sekarang, dia tidak melakukan apapun. Lucas memilih menikmati kemenangan kecil yang tidak diketahui siapa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN