Jam sudah lewat setengah sepuluh ketika Sisil turun dari ojek online di depan kontrakan. Dia baru saja datang setelah bekerja. Kemarin, dia harus lelah mental karena mantan PD yang mendatanginya dan membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain mengeluh dan memulihkan diri. Sekarang, sejak pagi perusahaan tempat dia bekerja melakukan audit dan sebagai salah satu staff keuangan, dia yang menjadi salah satu yang paling sibuk.
Sisil lelah secara jiwa dan raga. Badannya remuk. Kepala pening. Satu-satunya hal yang ia pikirkan cuma sampai di kontrakan, dia akan segera mandi lalu tidur.
Pikirannya tidak berubah sampai ia melihat mobil hitam yang parkir persis di depan pagar. Sisil berhenti. Jantungnya langsung sadar duluan sebelum otaknya. Mobil itu dikenalnya.
Lampu senyap. Mesin mati, tapi orangnya masih di dalam. Pintu terbuka dan orang yang membuatnya tersenyum, Lucas, keluar.
Paman ganteng itu masih memakai kemeja kerja. Jasnya sudah tidak ada. Lengan digulung. Wajahnya terlihat lelah, tapi bukan lelah biasa. Lebih seperti orang yang sudah lama menunggu sesuatu atau seseorang.
Sisil mengernyit. “Om?”
Lucas tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari mobil, menatap Sisil dengan ekspresi yang terlalu tenang.
“Kamu lembur.”
Bukan pertanyaan. Namun pernyataan seolah dia sudah tahu tapi masih mengatakannya sebagai basa basi.
Sisil mengangguk. “Iya, Om.”
Hening sebentar. Mereka saling bertatapan. Angin malam lewat pelan di antara mereka.
Sisil mengamati lebih detail sekarang. Lucas jelas tidak baru datang. Rambutnya sedikit berantakan. Posisi berdirinya bukan posisi orang yang baru turun mobil. Itu lebih seperti orang yang hampir tertidur di mobil karena lama menunggu.
“Om nungguin aku di sini?”
Lucas tidak menjawab langsung.
“Aku selesai praktik jam delapan.”
Oke. Itu bukan jawaban melainkan sebuah pengalihan.
“Terus?”
“Aku datang ke sini.”
Jawaban yang to the point, tapi tanpa alasan.
Sisil menatapnya lebih tajam sekarang. “Kenapa ke sini?”
Lucas memalingkan wajah sebentar. Rahangnya mengencang.
“Kemarin.”
Sisil langsung tahu maksudnya. Kristian dan percakapan di teras. Sepertinya, mantannya itu mengadu pada pamannya.
“Kenapa kemarin?” Sisil pura-pura polos. Dia ingin menguji apa yang sebenarnya ingin Lucas ketahui.
Lucas kembali menatapnya. Kali ini lebih lurus. Lebih berat.
“Kalian ngobrol?”
Nada suaranya tetap rata, tapi ada sesuatu yang ditekan di dalamnya. Sisil tahu kalau Lucas pasti penasaran dengan obrolan mereka dan hasilnya.
Sisil menghela napas kecil. “Iya. Terus?”
“Dia datang buat balikan. Dia mengirimkan pesan begitu.”
Itu bukan tanya. Itu fakta.
Sisil menatap Lucas, mencoba membaca seberapa jauh dia tahu.
“Om dapet laporan dari siapa?”
Lucas tidak berkedip.
“Dia chat aku.”
Jantung Sisil tersentak sedikit.
Oke. Jadi sumbernya Kristian sendiri. Sisil menganggukkan kepala beberapa kali.
Lucas melanjutkan, suaranya masih terkendali tapi jelas tidak santai.
“Dia bilang mau ketemu kamu. Tanya menurutku kamu bakal mau balikan atau tidak.”
Sisil terdiam lalu menatapnya dengan menantang, "menurut Om gimana?"
Lucas tersenyum tipis dan datar.
“Jujur, aku tidak bisa menebak pikiranmu.”
Nah. Itu inti masalahnya. Bukan soal lembur. Bukan soal pulang malam. Tebakannya benar, Lucas penasaran hasil atau jawaban darinya untuk pertanyaan Kristian.
Sisil melipat tangan di dadanya. “Om pikir jawabannya apa?”
Lucas menatapnya lama. Seakan-akan mencoba membaca wajahnya sebelum menjawab.
“Aku tidak tahu.”
Jujur.
“Makanya Om nungguin aku di sini?”
“Iya.”
Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan tambahan.
Sisil mendengus kecil. “Om ini sebenernya nggak sabaran banget ya.”
Lucas menghela napas pelan.
“Aku tidak suka berada dalam posisi tidak tahu.”
“Kok kayaknya lebih ke nggak suka kehilangan kontrol.”
Lucas tidak langsung menyanggah.
Itu jawabannya.
Sisil mendekat satu langkah. “Om takut aku luluh?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Lucas tidak bergerak, tapi matanya jelas menyiratkan kalau dia tidak mau Sisil luluh tapi merasa peluang itu mungkin masih ada.
“Haruskah aku takut?”
Sisil hampir tersenyum.
“Oke. Jadi memang takut.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi Om datang ke sini setelah bekerja.”
Lucas menatapnya dengan sesuatu yang lebih seperti kena mental sedikit sekarang.
“Aku ingin tahu kamu masih mengharapkannya atau tidak.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi dalam.
Sisil merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Bukan karena romantis. Namun karena ini pertama kalinya Lucas benar-benar terdengar… tidak aman.
“Kalau aku bilang hampir luluh, gimana?” Sisil sengaja menguji.
Rahang Lucas mengeras seketika.
Hening. Lampu jalan memantulkan bayangan wajahnya yang tiba-tiba lebih tegas.
“Aku akan menghargai keputusanmu.”
Meski bilang begitu, suaranya turun setengah nada menyiratkan kalau dia mungkin akan sedih atau kecewa.
Sisil menyipitkan mata. “Bohong.”
Lucas tidak tersenyum.
“Aku tidak akan memaksamu.”
“Itu bukan pertanyaanku.”
Lucas mendekat satu langkah. Jarak mereka sekarang tidak sampai satu lengan.
“Apa kamu luluh?”
Akhirnya. Pertanyaan yang sebenarnya.
Sisil menatapnya lurus.
“Nggak.”
Sederhana. Satu kata, tapi efeknya nyata.
Bahu Lucas yang tadi kaku, sedikit turun. Napasnya yang sejak tadi tertahan, keluar perlahan. Dia terlihat lega.
“Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Dia tidak menyentuhmu?”
Sisil langsung melotot. “Om!”
Lucas sadar dia terlalu jauh. Ia memalingkan wajah sedikit, mengatur ulang ekspresinya.
“Maaf.”
“Tuh kan posesif.”
“Itu refleks.”
“Refleks kepemilikan?”
Lucas diam.
Hal itu sudah cukup menjawab.
Sisil menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng kecil. “Om ini aneh.”
“Mungkin.”
“Tapi aku nggak luluh sama Kristian. Udah puas?”
Lucas menatapnya sekali lagi, memastikan tidak ada ragu di sana.
“Ya.”
Sisil menghela napas. “Harusnya Om istirahat, bukan nongkrong depan kontrakan orang.”
“Aku tahu.”
“Tapi tetep datang.”
“Iya.”
Sisil menatapnya lama lalu tersenyum kecil.
“Om ini kalau cemburu nggak kelihatan, tapi berasa banget.”
Lucas membuka pintu mobilnya.
“Aku tidak cemburu.”
Sisil langsung terkekeh. “Iya iya. Dokter paling rasional sedunia.”
Sebelum masuk mobil, Lucas berhenti sebentar.
“Sisil.”
“Hmm?”
“Kalau dia datang lagi, bilang ke aku.”
Itu bukan permintaan melainkan sebuah pernyataan yang terdengar seperti batas.
Sisil menatapnya, lalu mengangguk pelan.
“Pasti.”
Mereka bertatapan sebentar lalu Sisil tersenyum.
"Jadi, Om... hati om sudah milik aku sekarang?"
Lucas hampir mengangguk tapi kemudian segera menggeleng, "Belum."
Sisil mengerucutkan bibir, "Kok belum? Om sudah terbukti cemburu."
"Aku hanya menguji kamu beneran serius atau cuma menjadikanku sebagai batu loncatan agar Kristian cemburu dan mengajak balikan kamu," jelasnya.
"Dia memang agak bodoh, tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Seperti kataku, aku suka om."
Pernyataan yang terdengar ringan, tapi serius.
"Aku pergi," ujar Lucas mengabaikan pengakuan Sisil.
"Oke, hati-hati, Om."
"Satu lagi, jangan lupa balas pesanku," tegas Lucas.
Sisil mengangguk, "Aku sibuk dari kemarin di perusahaan," jelasnya.
Lucas hanya mengangguk lalu masuk mobil. Mesin pun menyala.
Sisil berdiri sampai mobil itu pergi. Gadis muda itu tersenyum kecil.
"Oke, dia cemburu," bisiknya lalu masuk ke rumah kontrakannya sembari bersiul pelan. Semua rasa lelahnya seakan hilang, berganti rasa gembira yang sulit untuk dijelaskan.