Sisil menatap Kristian dari sofa, lengannya disilangkan di daada, bibir mengerucut tipis. Dhea duduk di kursi samping, tangannya menopang dagu, mata berbinar-binar seperti penonton yang antusias menunggu pertunjukan.
Kristian duduk di kursi di depan mereka, wajahnya setengah memelas, setengah cemberut, mencoba menampilkan ekspresi “jangan marah sama aku, Sil… aku masih sayang.”
“Jadi… lo ngapain ke sini?” tanya Sisil, nada suaranya santai tapi jelas mengandung ketus.
Kristian menggaruk kepala, pura-pura bingung. “Aku… cuma pengen… ngobrol sebentar. Tolong jangan marah, Sil. Aku cuma pengen…”
“Pengin minta maaf?” Sisil menyambung dengan nada dingin.
“Yah… iya. Gue minta maaf…” Kristian menunduk dramatis. “Jujur, gue nggak bisa putus gitu aja. Gue masih sayang sama lo.”
Sisil menahan napas. “Masih sayang? Lo selingkuh, Kris. Masih sayang itu… gimana coba logikanya?”
Dhea meletakkan tangan di pipi, menahan tawa.
Gilaa… Sisil, ini serius banget. Gue nggak bohong kalau kasihan. Mukanya Kristian tuh… kayak kucing keseret ban motor. Beneran menghibur banget. Dhea berdialog dalam hati.
Sisil menatap Dhea sebentar, lalu menoleh kembali ke Kristian. “Lo tau kan gue ini nggak gila."
"Nggak ada yang bila lo gila, Sil," bantah Krsitian cepat. "Gue cuma minta dimaafin dan kesempatan."
"Gue gila kalau ngasih lo kesempatan, Kris." Sisil berucap tegas.
"Kenapa kok kayak gitu? Setiap orang kan pantas dapat kesempatan kedua." Kristian berusaha meyakinkan.
Sisil menghela napas pelan dan berat. Ekspresi wajahnya terlihat sudah muak, tetapi Kristian tentu bukan yang akan mudah mundur hanya karena dia memintanya begitu. Sejak dulu, Kristian memang selalu keras kepala dan mementingkan dirinya.
"Coba dibalik. Kalau gue yang selingkuh sampe HS, lo mau maafin gue?"
"Nggaklah, ngapain?" jawab Kristian cepat yang membuat dia langsung menampar pelan mulutnya.
"Intinya kejadiannya nggak seperti yang lo pikir. Gue nggak kayak gitu sama Anne."
Kristian mencoba memelas, "Lo mau gue lakuin apa biar lo maafin gue?"
" Berhenti masang wajah kayak nahan berak begitu. Gue nggak gampang luluh cuma karena muka memelas lo. Jadi kalau maksud lo minta dimaafin, jangan harap gue langsung bilang iya.”
Kristian menggigit bibir, lalu menatap Sisil dengan mata polos. “Gue nggak memelas, gue tulus dan cuma pengen… lo ngerti kalau itu nggak sengaja. Gue cuma… tersesat sebentar, tapi masih pengen kita bisa…”
“Bisa apa, Kris? Balikan gitu?” Sisil menyela dengan nada dingin tapi tajam.
Kristian menunduk, suara kecil. “Gue… nggak mau kehilangan lo, Sil…”
Sisil mendengus, setengah kesal setengah geli. “Duh… dramatisnya keterlaluan. Gue ini cuma mau santai sore, bukan nonton pertunjukan sedih.”
Dhea menepuk meja dengan tangan, menahan tawa. “Hahaha… ini bener-bener live show, Sisil. Gue seneng banget bisa duduk di sini, nonton aktingnya..
Kristian menatap Dhea kesal. "Gue serius, Dhea. Gue nggak lagi akting,” tegasnya.
"Nggak usah nyalahin, Dhea. Lo emang sulit dipercaya," ujar Sisil saat melihat Kristian seperti kesal pada Dhea.
Kristian menatap Sisil, wajahnya sedikit memerah. “Gue serius, Sil. Gue bisa ngerti kalau lo marah. Tapi… gue cuma pengen… eh… tetap pengen kita berhubungan baik, gitu…”
Sisil mencondongkan tubuh ke belakang, memiringkan kepala. “Baik? Maksud lo… kita masih bisa ngobrol normal tanpa drama, atau kita mau gue pura-pura bahagia sambil ngedengerin lo memelas?”
Kristian tersenyum tipis, tetap setengah memelas. “Gue cuma pengen lo ngerti kalau gue masih peduli soal kita. Gue nggak mau semuanya berakhir dengan rasa benci, Sil…”
Dhea menutup mulutnya, tertawa pelan. “Hahaha… Sisil… aku kasih rating aktingnya 10/10. Kalau lo nggak luluh, gue protes.”
"Diam lo!" Kristian makin sewot. Dhea bodoh amat.
Sisil menatap Dhea, menahan senyum kecil. “Tenang, jangan langsung diulti, nanti dia nangis..”
Kristian menghela napas pelan, "Gue tahu kalau lo nggak akan mudah percaya, tapi gue tulus mau kita balikan dan kembali bersikap normal."
Sisil menarik napas panjang, menatap langit sore yang mulai jingga. “Normal? Lo tau kan kita nggak bisa balik ke normal. Tapi… duduk di sini, ngobrol sebentar, harusnya lo udah bersyukur.”
Kristian tersenyum tipis, tapi masih ada rasa memelas. “Makanya hari ini gue datang… biar bisa duduk bareng lo. Gue janji, nggak akan main drama lagi setelah lo maafin gue.”
Sisil mengerucutkan bibir, tapi matanya menatap Kristian dengan ekspresi campur antara bete dan geli. “Nggak ada kita lagi, Kris. Kita nggak akan bisa balikan.”
"Kenapa?"
"Karena lo selingkuh dan gue nggak bisa maafin perselingkuhan."
"Itu cuma khilaf, Sil."
"Khilaf? Lo lupa/ Selama hampir setengah tahun, lo selalu bikin gue kesepian, Kris." Sisil menatap Kristian dengan mata berkaca-kaca. Dia bukan sedih karena akhirnya putus, tapi mengingat luka yang menacap dalam memang selalu mengundang tangis.
"Lihat, kan? Lo selalu bikin Sisil nangis, Kristian. Jadi, hanya orang gila yang mau ngasih lo kesempatan kedua," tegasnya.
Kristian menunduk sebentar, lalu menatap Dhea. “Eh… Dhea, jangan ganggu… gue lagi serius sama Sisil…”
Dhea terkekeh. “Hahaha… serius? Santai aja, Kris. Gue cuma nonton, nggak ikut campur. Lagipula, lo kok nggak sadar diri, sih? Selingkuh itu bukan khilaf, tapi tindakan dengan kesadaran!” Dhea menegaskan.
Sisil menatap Dhea sambil tersenyum pelan, "Dhea aja paham betapa lo buat gue terluka, masa lo nggak sih?"
"Gue tahu, makanya gue pengen minta maaf dan dengan balikan sama gue, gue bisa nebus segala kesalahan gue, Sil." Kristian masih keras kepala.
"Dengan cara apa? Mutusin Anne? Ngasih gue barang mahal?"
"Dengan jadi pacar yang baik buat lo," tegas Kristian.
"Jadi, lo nggak bakal pecat sekretaris lo?" tanya Dhea heran.
"Ini dua hal yang berbeda, urusan pekerjaan dan pribadi harusnya tidak dicampur adukkan, kan?" Kristian menatap Dhea dengan percaya diri.
Sisil tertawa pelan.
"Sumpah, sakit kepala gue sama logika lo. Mending lo pulang, deh." Sisil memegang pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.
"Iya, lo ternyata lo nggak cuma gila. NPD njir," ledek Dhea menimpali.
Kristian terlihat tersinggung.
"Sil, gue nggak bakal nyerah. Gue bakal buktiin kalau gue dan Anne nggak ada hubungan apapun..."
"Selain berbagi kehangatan?" potong Sisil cepat. "Sekarang lo pulang dan jangan bermimpi balikan sama gue. Lo sama Anne aja," tegas Sisil.
"Kok, gitu, Sil?" tanyanya kebingungan.
"Sumpah, selain gila, over PD, lo ternyata bodoh banget, Kris," ujar Dhea frustrasi. "Berdiri lo!"
Dia menarik lengan Kristian lalu menyuruhnya keluar dari ;intu.
"Jangan balik lagi, kalau nekat, gue siram lo pake air garam," ancam Dhea lalu menutup pintu kontrakan.
Kristian masih diam di depan pintu yang tertutup. Dia menciba memanggil Sisil, tapi pintu tetap tertutup rapat. Akhirnya dia memilih mundur dan pulang untuk saat ini. Namun, dia bertekad akan datang lagi nanti.