Gema sirine mobil pengawal perlahan mati saat iring-iringan kendaraan taktis Danendra Group memasuki gerbang besi vila perbukitan. Hujan sisa badai siang tadi menyisakan kabut tebal yang merayap di sela-sela pohon pinus, membungkus bangunan mewah itu dalam isolasi yang sunyi. Elara melangkah turun dari mobil tanpa menunggu dibukakan pintu oleh pengawal. Setelan blazer gadingnya terasa kaku, senada dengan langkah kakinya yang berat melintasi lantai marmer ruang tengah. Arlo berjalan di belakangnya, menyerahkan tas kerja kulitnya kepada kepala pelayan dengan gerakan yang teratur. Wajahnya datar, tanpa ekspresi kemenangan sedikit pun. “Bawa seluruh barang Nyonya Elara kembali ke kamar utama di lantai dua,” perintah Arlo, suara baritonnya memecah kesunyian ruangan dengan dingin. “Baik, Tuan

