Malam beranjak makin larut ketika sebuah SUV hitam bersepuh kelam berbelok halus, memasuki pelataran sebuah restoran privat tersembunyi di sudut Menteng. Area tersebut sengaja dipilih karena suasananya yang sepi, jauh dari keramaian pameran bisnis maupun intaian publik. Arsitektur bangunan luar yang didominasi elemen kayu tua memberi kesan tenang, seolah memisahkan ruang di dalamnya dari kebisingan Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur. Di ruang privat paling dalam, pendar hangat dari lampu gantung berbahan tembaga memantul lembut di atas meja kayu tebal. Elara duduk memiringkan tubuhnya sedikit, jemarinya melingkari cangkir porselen berisi teh chamomile yang uap hangatnya sudah lama menghilang. Di sebelahnya, Arlo Danendra duduk dengan postur tegap. Kemeja putih berlengan panjang ya

