“Tahan, Arlo. Biarkan dia masuk ke halaman teras,” suara Elara terdengar dingin memutus perdebatan dari pelantang suara interkom di ruang tengah. Arlo Danendra yang baru saja hendak melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya menghentikan gerakan kakinya di undakan tangga terbawah. Ia membalikkan tubuh, menatap Elara yang kini berjalan turun dengan langkah kaki yang teramat mantap. Pakaian sweter kasmir longgar pemberian Arlo tampak bergerak selaras dengan ayunan langkahnya. Di dalam dekapannya, Rhea Shaka sudah ia titipkan sepenuhnya di bawah pengawasan Suster Lastri di kamar atas. Wajah Elara yang semula dipenuhi sisa-sisa air mata ketakutan, kini mengeras total—menampilkan sebuah keberanian baru yang justru lahir dari titik keputusasaan terdalamnya. “Kamu tidak perlu menghadapi pecundang

